Masuknya Danantara ke dalam asosiasi Sovereign Wealth Fund dunia memiliki makna yang jauh melampaui status keanggotaan. Keanggotaan tersebut membuka akses terhadap jaringan investasi global, pertukaran praktik terbaik (best practices), kolaborasi pembiayaan proyek lintas negara, hingga peluang co-investment dengan sovereign wealth fund terbesar dunia.
Namun keanggotaan tersebut juga membawa konsekuensi. Danantara harus mampu memenuhi prinsip-prinsip internasional yang dikenal sebagai Santiago Principles, yaitu seperangkat standar tata kelola yang dikembangkan oleh International Forum of Sovereign Wealth Funds (IFSWF).
Prinsip-prinsip tersebut menekankan:
•transparansi kelembagaan;
•independensi investasi;
•akuntabilitas publik;
•manajemen risiko;
•pelaporan keuangan yang dapat diaudit secara internasional.
Apabila standar tersebut dijalankan secara konsisten, maka bukan hanya Danantara yang memperoleh manfaat, tetapi seluruh BUMN yang berada dalam ekosistemnya akan terdorong memperbaiki kualitas manajemen perusahaan.
Dengan demikian peningkatan laba BUMN bukan semata-mata berasal dari efisiensi operasional, tetapi juga dari meningkatnya kepercayaan pasar.
Baca Juga
Konsolidasi BUMN Memerlukan Standar Baru
Selama puluhan tahun, salah satu kritik terhadap BUMN adalah belum seragamnya standar tata kelola antarperusahaan.
Sebagian perusahaan telah menerapkan corporate governance yang sangat baik, sementara sebagian lainnya masih menghadapi persoalan efisiensi, struktur utang, maupun intervensi non-komersial.
Kehadiran Danantara sesungguhnya membuka peluang melakukan harmonisasi standar tersebut.
Dalam perspektif Resource-Based View (Barney, 1991), keunggulan kompetitif perusahaan tidak hanya berasal dari aset fisik, tetapi juga berasal dari kualitas organisasi, budaya perusahaan, serta kemampuan manajerial.