Sport . 15/07/2026, 10:18 WIB
Menurut Scaloni, tuduhan semacam itu bukan pertama kali dialami Argentina. Ia menyebut isu serupa sudah muncul sejak negaranya menjadi juara dunia pada 1986.
"Pada 1986 mereka juga mengatakan Argentina mendapat keuntungan yang tidak adil. Ini bukan hal baru bagi kami," ujar Scaloni dalam konferensi pers jelang perempat final.
Scaloni mengakui akan selalu ada pihak yang tidak puas melihat Argentina meraih kemenangan. Namun, ia menilai kritik tersebut justru menjadi penyemangat bagi timnya.
Ia juga menegaskan keberadaan teknologi VAR membuat peluang terjadinya keberpihakan terhadap tim tertentu menjadi sangat kecil.
"Dengan VAR dan seluruh teknologi yang kami miliki sekarang, sangat sulit membantu siapa pun. Tidak ada ruang untuk interpretasi yang berbeda," katanya.
Sebagai contoh, Scaloni menjelaskan bahwa pelanggaran terhadap Lisandro Martínez tetap dianggap sebagai pelanggaran, baik kontak yang terjadi keras maupun ringan. Jika pelanggaran tersebut menjadi awal terciptanya gol, maka gol akan dibatalkan sesuai aturan.
"Media sosial memperbesar semua hal sehingga kontroversi cepat menyebar. Namun tidak ada keberpihakan. Justru sekarang sangat sulit membantu tim tertentu. Mungkin dulu hal seperti itu bisa terjadi, saya tidak tahu, tetapi saat ini hampir mustahil," ujar Scaloni.
Di tengah polemik tersebut, Argentina tetap melanjutkan perjuangannya di Piala Dunia 2026. Juara bertahan itu dijadwalkan menghadapi Inggris pada babak semifinal, sementara Spanyol telah memastikan tempat di final setelah mengalahkan Prancis. *
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id