Internasional . 12/07/2026, 19:23 WIB
fin.co.id - Kementerian Luar Negeri Rusia (Kemlu Rusia) menegaskan bahwa Moskow tidak memiliki niat sedikit pun untuk menyerang negara-negara anggota Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Rusia menyatakan tetap terbuka untuk menjalin dialog damai, asalkan seluruh pihak menghormati prinsip kesatuan keamanan internasional.
"Sebenarnya, NATO tidak bisa ada tanpa musuh eksternal, sehingga organisasi itu terus-menerus mencari musuh," ungkap Vladislav Maslennikov, Direktur Departemen Urusan Eropa Kemlu Rusia, saat berbicara kepada RIA Novosti, Sabtu, 11 Juli 2026.
Maslennikov menilai, blok Atlantik Utara tersebut sejak awal selalu berorientasi pada konfrontasi. Ia menuduh NATO terus memperjuangkan kepentingannya sendiri melalui kekuatan militer dan enggan bekerja sama demi memperkuat keamanan serta stabilitas global.
"Kami telah berulang kali menyatakan bahwa kami tidak berniat menyerang sekutu NATO dan kami terbuka untuk berdialog, selama dialog itu didasarkan pada kepentingan kami dan prinsip-prinsip dasar keamanan internasional; yang paling penting adalah kesatuan keamanan," tambah Maslennikov.
Meskipun menyatakan siap berdialog dengan NATO, situasi di lapangan menunjukkan eskalasi yang berbeda. Militer Rusia melancarkan gelombang serangan rudal dan drone (pesawat tanpa awak) secara masif ke wilayah Ukraina pada Sabtu (11 Juli). Serangan brutal ini menewaskan delapan orang dan melukai puluhan warga sipil lainnya.
Kondisi ini memperparah posisi Kyiv yang saat ini tengah mengalami krisis amunisi pertahanan udara. Kekurangan pasokan senjata ini membuat kota-kota di Ukraina menjadi sangat rentan terhadap gempuran udara Rusia.
Pihak berwenang setempat melaporkan bahwa dua bom luncur Rusia menghantam area ramai di kota Sumy, Ukraina bagian utara. Wilayah ini memang kerap menjadi target utama Moskow. Hantaman bom tersebut menewaskan lima orang dan melukai 30 orang lainnya. Salah satu bom merusak fasilitas publik berupa halte bus, hingga merobek bagian samping sebuah bus kuning dan menghancurkan fasad gedung apartemen.
Tragedi juga terjadi di distrik perbatasan wilayah Sumy, area di mana Kremlin ingin memperluas zona penyangganya. Seorang pejabat setempat mengonfirmasi seorang pria tewas setelah tidak sengaja menginjak alat peledak.
Sementara itu, serangan bom luncur di kota Zaporizhzhia, Ukraina tenggara, melukai 10 orang warga. Di tempat lain, dua orang tewas dan satu orang terluka akibat hantaman rudal di kota pelabuhan Odesa, Ukraina selatan.
Merespons serangan yang kian mematikan, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy langsung menyerukan langkah diplomatik yang lebih agresif. Melalui pidato video malamnya, Zelenskyy mendesak para sekutu Barat untuk mempercepat pengiriman pasokan senjata ke Kyiv.
"Saya sedang mempersiapkan perubahan dalam upaya diplomatik Ukraina. Kita membutuhkan tingkat kerja sama baru dengan mitra kita untuk memastikan bahwa perjanjian tentang pasokan senjata dipenuhi," tegas Zelenskyy.
Zelenskyy menggarisbawahi bahwa seluruh komitmen yang telah disepakati oleh para pemimpin nasional harus berjalan jauh lebih cepat dan lengkap. Hal ini termasuk perjanjian penting yang baru saja ia capai dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada minggu ini. Kerja sama tersebut memberikan lisensi resmi bagi Ukraina untuk memproduksi rudal pencegat Patriot sendiri secara mandiri.
Saat ini, militer Ukraina mengalami krisis akut amunisi untuk sistem pertahanan udara Patriot mereka. Akibat keterbatasan ini, pasukan Kyiv sebagian besar tidak mampu menembak jatuh rudal balistik Rusia yang melaju beberapa kali kecepatan suara selama sebulan terakhir.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id