Catatan Dahlan Iskan . 12/07/2026, 06:02 WIB
Oleh: Dahlan Iskan
Ternyata ada jam yang lebih mahal dari jam meerk Richard Mille: Jampidsus.
Anda sudah tahu harganya. Anda juga sudah tahu itulah guyonan warganet atas pengunduran diri jaksa agung muda tindak pidana khusus Sabtu kemarin: Febrie Ardiansyah.
Beberapa jam sebelum mundur, Febrie masih mencoba bertahan. Ia masih berani melakukan konferensi pers dua arah: bertahan sekaligus melawan.
Ia mencoba memainkan opini: penggerebekan kafe dan rumahnya oleh polisi itu sebagai serangan balik atas pengungkapan korupsi di proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Kejaksaan Agung.
Febrie ingin mengesankan bahwa Polri sedang melawan Kejagung. Febrie juga ingin mengesankan Kejagung tidak takut. Pengungkapan korupsi MBG akan diteruskan. Calon tersangkanya bahkan naik dari 41 ke 47. Febrie juga menggunakan strategi mencantolkan diri ke cantolan yang lebih tinggi: presiden. Semua yang ia lakukan itu demi menyukseskan program utama Presiden Prabowo.
Soal ditemukannya uang Rp60 miliar di kafe de'Clan dan Rp476 miliar di rumahnya di Sentul, ia mencoba pakai strategi bertahan. Katanya: Itu bukan uangnya. Uang itu ada yang punya. Kafe itu bukan kafenya. Ada yang punya.
Tidak lama setelah konferensi pers Jampidsus itu, Polri juga mengadakan kegiatan serupa. Telak. Polri menampilkan tumpukan uang yang banyak sekali, termasuk uang dolar. Juga mempertontonkan emas batangan sebanyak 74 kg –dua kilogram lebih banyak dari emas yang ada di puncak tugu Monas Jakarta.
Setelah dua konferensi pers itu wartawan hanya bisa mengintip dan menguping berseliwerannya sinyal-sinyal rahasia tingkat paling tinggi. Itulah Jumat malam yang sangat menegangkan. Sampai larut malam. Kontak-kontak paling rahasia bertalu antara Istana, Mabes TNI, Kemenhan, Kejagung, Mabes Polri. Puncaknya, di tengah malam yang sunyi, mungkin sudah masuk waktu hari Sabtu dini hari sebuah surat ditandatangani. Lalu dikirimkan ke Jaksa Agung. Isinya: surat pengunduran diri Febrie Ardiansyah sebagai jampidsus.
Dengan cara itu maka tidak ada lagi kesan Polri berhadapan dengan Kejaksaan Agung. Yang ada adalah Polri menangani perkara pribadi warga negara bernama Febrie Ardiansyah. Apakah ada nego di balik itu perlu menunggu adanya tembok-tembok bertelinga yang mau bicara.
Polri sudah dua kali ini menyeret pimpinan puncak lembaga tinggi negara yang bertugas di bidang pemberantasan korupsi. Dulunya dua puncak ini seperti tidak mungkin bisa disentuh. Tapi polisi berani menersangkakan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri. Kini akan mengungkap keterlibatan seorang jaksa agung muda bidang pemberantasan korupsi.
Febrie begitu gigih dalam menangani kasus korupsi di PT Timah. Sampai –saat diumumkan– mencapai nilai Rp900 miliar. Juga begitu gigih menangani perkara Pertamina –saat diumumkan sebagai kasus bensin oplosan. Pun di soal penyitaan kebun-kebun sawit yang dianggap menyalahi ketentuan perizinan.
Waktu itu sampai ada desas-desus Febrie sedang cari poin untuk bisa menggantikan Burhanuddin sebagai jaksa agung.
Mungkin saja Febrie benar: bahwa uang sebanyak itu bukanlah uangnya. Setidaknya tidak seluruhnya. Itu ada yang punya. Bisa saja yang punya tidak hanya satu-dua orang. Jangan-jangan mirip dengan yang terjadi tahun lalu. Yakni ketika ditemukan uang senilai lebih Rp 1 triliun di satu kamar rumah seorang petinggi penegak hukum. Di Bogor. Ternyata itu uang milik 12 orang yang dititipkan di situ.
Berarti memang banyak sekali uang yang disimpan dengan cara seperti itu. Aneh. Bisa ketahuan –yang kebetulan ketahuan.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id