Internasional . 30/06/2026, 16:13 WIB
fin.co.id - Babak baru upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali bergulir di tengah situasi yang penuh ketidakpastian. Tim negosiasi Iran dan AS dijadwalkan tiba di Doha pada pekan ini.
Namun, pihak Iran mengatakan pada Senin, 29 Juni 2026, bahwa tidak ada pertemuan yang dijadwalkan. Penyebabnya, tembakan rudal akhir pekan dari kedua belah pihak menguji gencatan senjata sementara untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama empat bulan.
Presiden AS Donald Trump mengirim menantunya Jared Kushner dan utusannya Steve Witkoff untuk memimpin tim negosiasi, menurut sekretaris persnya Karoline Leavitt. Langkah Washington ini menunjukkan keseriusan mereka untuk meredam konflik yang kian meluas.
Meskipun Iran mengirim delegasi teknisnya ke Qatar minggu ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei mengatakan ini "tidak ada hubungannya" dengan kunjungan Amerika dan tidak ada pembicaraan antara kedua belah pihak yang dijadwalkan.
Pihak Teheran tampaknya masih menutup pintu untuk komunikasi langsung secara formal. "Kami tidak akan mengadakan pertemuan negosiasi di tingkat mana pun dengan pihak Amerika dalam beberapa hari mendatang," kata Baghaei.
Perselisihan mengenai apakah kedua pihak akan bertemu atau tidak menggarisbawahi kerapuhan kesepakatan 17 Juni yang menghentikan konflik yang telah mengganggu aliran minyak global melalui Selat Hormuz dan menciptakan masalah politik bagi Trump menjelang pemilihan kongres November mendatang.
AS dan Iran memberi diri mereka setidaknya 60 hari untuk menerapkan nota kesepahaman 14 poin untuk memperpanjang gencatan senjata April, membahas program nuklir Iran, dan menegosiasikan gencatan senjata permanen. Namun, kemajuan berjalan lambat, dengan masing-masing pihak saling menuduh melanggar ketentuan yang disepakati.
Kondisi di jalur perdagangan laut pun sempat mengalami kelumpuhan total akibat eskalasi militer sebelumnya. Setelah AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz, jalur sempit yang sebelumnya membawa sekitar seperlima perdagangan minyak global, hampir terhenti. Di sisi lain, Israel belum bergabung dalam pembicaraan perdamaian AS-Iran dan telah menjauhkan diri dari kesepakatan tersebut.
Ketegangan antara Washington dan Teheran telah mempersulit upaya untuk mengakhiri pertempuran di Lebanon, di mana Ketua Parlemen Nabih Berri, sekutu Hizbullah yang didukung Iran, telah meragukan kesepakatan terpisah yang dimediasi AS antara Lebanon dan Israel yang bertujuan untuk menghentikan konflik tersebut.
Penutupan jalur air tersebut menyebabkan harga minyak naik di atas US$100 per barel, mendorong inflasi global dan memberi tekanan pada Trump menjelang pemilihan paruh waktu yang akan menentukan kendali Kongres AS, di mana beberapa rekan Republiknya telah mengkritik presiden karena melancarkan perang tanpa otorisasi anggota parlemen.
Meski situasi terlihat buntu, secercah harapan muncul dari agenda pertemuan teknis terpisah melalui pihak ketiga. Seorang pejabat senior Iran mengatakan akan ada pertemuan di Doha pada hari Selasa, tetapi tidak seperti pembicaraan teknis sebelumnya antara tim Iran dan AS di Swiss, fokusnya akan pada pengelolaan Selat Hormuz dan de-eskalasi ketegangan.
Untuk menjembatani komunikasi kedua negara, para mediator internasional kini mulai bergerak aktif mengambil peran. Pejabat lain yang mengetahui rencana tersebut mengatakan tim teknis dari AS dan Iran diharapkan bertemu secara terpisah dengan mediator Qatar dan Pakistan pada hari Rabu.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id