Internasional . 28/06/2026, 23:08 WIB

Gelombang Panas Ekstrem Melanda Eropa Barat: Prancis Mencatat 1.000 Kematian!

Penulis : Esnoe Faqih Wardhana
Editor : Esnoe Faqih Wardhana

fin.co.id — Para pejabat kesehatan Prancis melaporkan bahwa telah terjadi sekitar 1.000 kematian lebih banyak dari yang diperkirakan semula akibat gelombang panas ekstrem. Fenomena alam yang memecahkan rekor sejarah ini telah melanda sebagian besar wilayah Eropa Barat selama beberapa hari terakhir.

Kondisi fatal ini menunjukkan betapa berbahayanya sengatan suhu panas jika masyarakat tidak waspada, terutama kelompok lanjut usia yang tinggal sendirian di kawasan perkotaan padat penduduk.

"Sejiak 24 Juni, sekitar 1.000 kematian tambahan (angka yang belum dikonsolidasikan) telah diamati dibandingkan dengan kematian yang tercatat pada bulan-bulan sebelumnya," jelas Badan Kesehatan Masyarakat Prancis melalui pernyataan resminya, Minggu, 28 Juni 2026.

Pihak otoritas menjelaskan bahwa wilayah-wilayah yang masuk dalam zona peringatan merah mengalami dampak paling parah. Mirisnya, sekitar 85 persen dari total angka kematian tersebut menimpa warga yang telah berusia 65 tahun ke atas.

Lonjakan korban jiwa paling tajam justru melibatkan masyarakat yang meninggal dunia di dalam rumah mereka sendiri, terutama di wilayah Ile-de-France yang mencakup pusat kota Paris dan area pinggirannya.

Badan Kesehatan Masyarakat Prancis mengingatkan bahwa situasi tragis ini menjadi alarm penting bagi semua pihak. "Pengamatan ini berfungsi sebagai pengingat akan perlunya tindakan solidaritas terhadap orang-orang yang terisolasi atau mengalami kesepian yang mendalam, termasuk di daerah-daerah yang sangat urban," tambah mereka.

Pihak lembaga juga menekankan bahwa data tersebut masih bersifat sementara dan kemungkinan besar merupakan perkiraan yang kurang dari angka riil di lapangan.

Meskipun cuaca panas mulai mereda di seluruh penjuru Prancis pada hari Minggu, masyarakat sempat merasakan siksaan suhu ekstrem yang melonjak naik di atas 40°C di banyak daerah selama beberapa hari berturut-turut.

Peringatan Keras dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

Para ilmuwan mengonfirmasi bahwa fenomena alam yang bermula sejak 20 Juni ini merupakan salah satu bencana gelombang panas terburuk yang pernah melanda benua Eropa.

Kondisi udara yang sangat membakar ini terbukti mengganggu operasional pembangkit listrik, merusak fasilitas infrastruktur umum, hingga membebani sistem perawatan kesehatan di berbagai rumah sakit.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, turut mengecam situasi mengkhawatirkan ini melalui akun media sosial pribadinya.

"Saat ini 150 miiljuta orang hidup di bawah panas ekstrem, ratusan orang telah meninggal, sekolah-sekolah ditutup, jaringan listrik kewalahan," tulis Tedros Adhanom Ghebreyesus di platform X.

Ia menambahkan bahwa faktor perubahan iklim global dan pemanasan global menjadi motor utama yang mengubah fenomena alam "sekali dalam satu generasi" ini menjadi bencana rutin yang kini terjadi hampir setiap tahun. Tedros mengingatkan bahwa gedung rumah, tempat kerja, serta fasilitas sekolah di seantero Eropa memang belum siap menghadapi skenario buruk dari ancaman cuaca panas ekstrem.

Jalur Transportasi Lumpuh dan Pasokan Listrik Terganggu

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id