fin.co.id - Situasi geopolitik di perbatasan Lebanon selatan kian memanas seiring sikap tegas yang keluar dari pihak Tel Aviv. Pemerintah Israel menyatakan pada Kamis, 25 Juni 2026, bahwa mereka hanya akan menarik pasukannya dari wilayah Lebanon selatan setelah Hizbullah sepenuhnya meletakkan senjatanya.
Sikap keras ini muncul di tengah bergulirnya pembicaraan intensif antara kedua negara dengan mediasi langsung dari Amerika Serikat di Washington.
Militer Israel sendiri telah melancarkan serangan udara secara luas di Lebanon dan mengirim pasukannya ke area selatan negara tersebut. Langkah ofensif ini terjadi setelah Hizbullah, milisi kuat yang mendapatkan dukungan penuh dari Iran, memutuskan masuk ke dalam kancah perang Timur Tengah di pihak pendukungnya pada bulan Maret lalu.
Sikap Tegas Israel Terkait Aturan Demiliterisasi Perbatasan
Pemerintah Israel tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalu terkait stabilitas keamanan di wilayah utara mereka. Juru bicara pemerintah Israel, David Mencer, menegaskan posisi negaranya dalam sebuah pengarahan kepada jurnalis.
“Kami tidak akan menarik pasukan kami dari Lebanon selatan selama Hizbullah tetap menjadi ancaman, belum dilucuti senjatanya, dan belum didemiliterisasi,” kata Mencer.
Di bawah tekanan diplomatik dari Amerika Serikat, para pejabat Lebanon sebenarnya telah memulai pembicaraan langsung dengan pihak Israel di Washington sejak bulan April. Putaran pembicaraan terbaru yang berlangsung selama tiga hari dijadwalkan akan berakhir pada hari Kamis ini.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memberikan komentar terkait jalannya negosiasi tersebut. Rubio menyebutkan bahwa kedua negara tetangga yang sedang bertikai itu sebenarnya sudah hampir mencapai sebuah “komitmen niat.”
Namun, saat wartawan kembali bertanya mengenai peluang perdamaian dalam pembicaraan tersebut, Mencer menekankan bahwa keselamatan warga Israel adalah harga mati yang tidak bisa ditawar sebelum penarikan militer terjadi.
“Kami menegaskan dengan sangat jelas bahwa tanggung jawab kami adalah kepada warga utara kami dan kepada seluruh Israel, dan kami tidak akan mengizinkan kekuatan teroris mana pun mendekati perbatasan kami – yang berarti bahwa setiap pengerahan kembali pasukan IDF dilakukan setelah, bukan sebelum, tetapi setelah demiliterisasi Lebanon selatan dan pelucutan senjata Hizbullah.”
Mencer juga mengingatkan kembali memori lama mengenai kegagalan kesepakatan internasional di masa lalu sebagai alasan mengapa Israel bersikap sangat berhati-hati.
Baca Juga
“Kita sudah pernah berada dalam situasi ini pada tahun 2024,” tambahnya. “Hizbullah seharusnya dilucuti senjatanya. Mereka tidak dilucuti.”
Ancaman Iran dan Dinamika Kesepakatan Sementara AS-Teheran
Di sisi lain, sekutu utama Hizbullah tidak tinggal diam melihat pergerakan militer Israel. Menurut laporan media pemerintah, komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran, Esmaeil Qaani, memberikan peringatan keras kepada Tel Aviv pada hari Kamis.
Israel harus menarik diri sendiri dari seluruh wilayah Lebanon atau terpaksa melarikan diri dalam kekalahan, kata komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran, Esmaeil Qaani, pada hari Kamis menurut media pemerintah.