fin.co.id - Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Institut Teknologi PLN (ITPLN) mendorong peningkatan electrifying agriculture (pertanian berbasis listrik) di Karawang, Jawa Barat melalui inovasi irigasi dengan tenaga Surya. Mereka menerapkan dan mengembangkan sistem pompa air tenaga surya yang akan mengairi irigasi ke sawah-sawah petani.
Bertempat di Desa Ciwulan dan Desa Pulosari, Kecamatan Telagasari, Kabupaten Karawang, tim PkM ITPLN membantu petani mengatasi keterbatasan pasokan air irigasi yang selama ini menjadi kendala utama produktivitas pertanian.
Ketua Tim PKM ITPLN, Ir. Meyhart Bangkit Sitorus, S.T., M.Eng., IPM., mengatakan sistem yang dibangun tidak hanya mengandalkan panel surya sebagai sumber energi, tetapi juga dilengkapi penyimpanan energi dan sistem pengendalian motor agar operasional pompa tetap stabil.
"Petani memperoleh sumber energi yang lebih bersih sekaligus pasokan yang lebih stabil untuk mengoperasikan pompa irigasi," ujar Meyhart dalam keterangannya, Kamis, 11 Juni 2026.
Menurut dia, energi yang dihasilkan panel surya pada siang hari tidak seluruhnya digunakan secara langsung. Sebagian energi disimpan dalam baterai sehingga pompa masih memiliki cadangan daya ketika intensitas sinar matahari menurun.
Selain memasang teknologi, Tim yang melibatkan Prof. Ir. Syamsir Abduh, M.M., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., serta Hasna Satya Dini, S.T., M.T., juga memberikan pelatihan kepada masyarakat mengenai pengoperasian sistem, keselamatan kerja, perawatan baterai, hingga pemeriksaan rutin perangkat. Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat mampu mengelola dan menjaga keberlanjutan sistem secara mandiri.
Anggota tim PKM ITPLN, Prof. Syamsir Abduh, menilai teknologi tersebut telah membuktikan bahwa sistem irigasi berbasis pompa listrik tenaga surya (PLTS) dapat diterapkan untuk mendukung sektor pertanian.
"Perguruan tinggi bukan menara gading. Kampus harus turun ke lapangan untuk menjawab persoalan masyarakat," kata Syamsir.
Secara teknis, sistem memanfaatkan panel surya berkapasitas 5 kilowatt peak (kWp) yang mengubah radiasi matahari menjadi listrik arus searah (DC). Energi kemudian diatur melalui solar charge controller berbasis maximum power point tracking (MPPT), disimpan dalam baterai, lalu diubah menjadi listrik arus bolak-balik (AC) melalui inverter sebelum digunakan untuk menggerakkan motor pompa.
Salah satu komponen utama yang digunakan adalah variable frequency drive (VFD) yang memungkinkan motor melakukan soft start atau beroperasi secara bertahap. Teknologi ini mampu mengurangi lonjakan arus saat pompa dinyalakan sehingga risiko gangguan sistem dapat ditekan.
Baca Juga
Untuk meningkatkan performa, tim melakukan pengembangan pada kapasitas panel surya, sistem proteksi, VFD, dan motor pompa. VFD ditingkatkan dari 5,5 kilowatt menjadi 10 kilowatt, sementara motor pompa diperbesar dari 5,5 kilowatt menjadi 7,5 kilowatt guna meningkatkan debit air yang dipompa.
Program tersebut hadir untuk menjawab dua persoalan sekaligus, yakni keterbatasan akses energi di area persawahan dan belum optimalnya sistem irigasi akibat kerusakan saluran sekunder maupun tersier.
Kepala Desa Ciwulan, Warkat Subrata, mengatakan keberadaan pompa tenaga surya sudah mulai membantu mengalirkan air ke lahan pertanian meskipun pembangunan infrastruktur pendukung belum sepenuhnya selesai.
"Air sudah bisa dialirkan. Ini bukan lagi sekadar eksperimen, tetapi teknologi yang mulai memberi dampak nyata," kata Warkat.
Ia menjelaskan Pemerintah Desa Ciwulan bersama Desa Pulosari telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp320 juta untuk mendukung program tersebut. Namun, masih dibutuhkan pembangunan jaringan pipa hingga titik akhir saluran tersier agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh petani.