fin.co.id - Pertamina Patra Niaga menjelaskan alasan di balik keputusan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Green. Langkah tersebut diambil untuk menjaga ketersediaan pasokan BBM di dalam negeri di tengah meningkatnya harga impor bahan bakar.
VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, mengatakan perusahaan sebenarnya sempat menahan kenaikan harga BBM nonsubsidi selama beberapa bulan. Namun kondisi tersebut tidak bisa dipertahankan lebih lama karena berpotensi mengganggu ketersediaan stok energi di pasar.
“Beberapa waktu kemarin itu masih bisa kami tahan, tetapi kenapa kok hari ini nggak bisa nahan? Karena kami harus memastikan ketersediaan di pasar itu ada barangnya,” ujar Sigit dalam Sarasehan Energi bertajuk “Transisi Energi dalam Memitigasi Konflik Global” di Universitas IPB, Bogor, Jawa Barat, Rabu 10 Juni.
Menurut Sigit, sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, harga BBM yang diimpor Pertamina mengalami kenaikan signifikan. Di sisi lain, harga jual BBM di dalam negeri saat itu masih dipertahankan.
Ia menyebut kondisi tersebut dilakukan karena Pertamina memahami tantangan pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat. Jika harga BBM langsung disesuaikan mengikuti kenaikan harga minyak dunia, biaya produksi berbagai sektor berpotensi ikut meningkat.
“Kalau biaya produksinya naik, akan berpengaruh ke harga jual produk yang dihasilkan. Berarti harga di pasar akan naik. Masyarakat konsumen bisa membeli, nggak? Tentu berat,” kata Sigit.
Pertamina kemudian memilih menahan harga BBM nonsubsidi sejak Maret 2026 hingga awal Juni 2026. Namun kebijakan tersebut berdampak pada kemampuan perusahaan dalam melakukan pembelian BBM dari pasar internasional.
“Pertamina mengimpor BBM dengan harga tinggi, terus kami jual di domestik harganya rendah. Uang yang kami dapat (dari penjualan domestik) untuk membeli BBM di market (impor) tidak lagi mendapatkan volume yang sama,” ujar Sigit.
Ia menjelaskan bahwa selisih antara biaya impor dan hasil penjualan membuat volume BBM yang dapat dibeli Pertamina semakin berkurang. Kondisi itu pada akhirnya memengaruhi jumlah stok yang tersedia.
“Kami tidak ingin kondisinya terus-terusan seperti ini, sehingga ketersediaan produk energi di masyarakat akan menurun. Ketika ada puncak permintaan, kondisi ini (penurunan stok energi) akan menjadi masalah,” kata Sigit.
Baca Juga
Setelah melalui pembahasan dan konsultasi dengan pemerintah, Pertamina akhirnya memutuskan melakukan penyesuaian harga untuk beberapa produk BBM nonsubsidi.
“Kami ingin memberikan pesan bahwa ini (harga BBM) memang perlu naik karena kondisinya memang harus kami pastikan terkait dengan ketersediaan suplai di market,” kata Sigit.
Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Pertamax dan Pertamax Green mulai 10 Juni 2026. Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green 95 (RON 95) meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Sementara itu, Pertamina memastikan produk BBM lainnya tidak mengalami perubahan harga. Pertamax Turbo tetap dijual Rp20.750 per liter, Dexlite Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex Rp24.800 per liter.
Untuk BBM bersubsidi, harga Pertalite masih bertahan di Rp10.000 per liter dan Biosolar tetap Rp6.800 per liter. *