Catatan Dahlan Iskan . 24/05/2026, 05:50 WIB
Saya pun teringat kepada seorang Oma Ambon bernama Margaretha Latulette. Biasa disapa dengan sebutan Oma Itha. Beliau berasal dari Pulau Buano meskipun sekarang menetap di kota Ambon. Mengenal beliau ketika kami sama-sama mengantar cucu sekolah. Sambil menunggu jam belajar selesai, kami mengobrol tentang banyak hal, utamanya tentang makanan khas, tradisi, dan budaya Maluku.
Dari Oma Itha, saya menjadi tahu, adanya kisah persaudaraan 3 negeri (kampung) 1 gandong di Maluku "Buano Oma Ullath". Negeri Buano di pulau Buano, negeri Oma di Pulau Haruku, dan negeri Ullath di pulau Saparua. Pela dan gandong, prinsip hidup yang terus ditanamkan di tanah Maluku, dan ungkapan sagu salempeng patah dua, yang bermakna persaudaraan yang erat, prinsip untuk saling berbagi, senasib sepenanggungan, juga saya ketahui dari Oma Itha.
Oma yang baik hati ini, ditinggal sang suami di usia 35 tahun. Berpulang dan tidak ditemukan jasadnya. Saat itu bertepatan dengan kerusuhan besar yang sedang terjadi di Maluku. Oma Itha tetap sendiri, membesarkan kedua anaknyi hingga kini telah menjadi Oma bagi keempat cucunyi. Entah mengapa, di perjumpaan pertama, kami bisa langsung akrab. Mungkin karena kami seumuran, juga sesama pensiunan. Bedanya beliau mantan PNS, tiap bulan masih terima transfer-an, he he.
Kunjungannyi ke Depok, karena diminta oleh putranyi agar bisa merayakan Natal bersama sang Mama. Maka di tahun baru yang lalu, Oma Itha sudah pulang ke Ambon. Tinggal kembali bersama Ibundanyi yang sudah berusia 88 tahun dan adik laki-lakinyi yang memerlukan pendampingan dari Oma Itha akibat sakit serius yang dideritanya.
Setelah kepulangan Oma Itha ke Ambon, saya tidak merasa sepi, masih ada Oma-Oma lainnya yang saya sebut dengan julukan Oma super, Oma hebat, Oma keren. Mendengarkan cerita mereka, membuat waktu menunggu tidak terasa jenuh.
Meskipun sudah terpisah jarak dengan Oma Itha, kami tetap berteman. Via Facebook, beliau selalu membagikan aktivitasnyi sehari-hari, mendampingi sang Mama sekaligus merawat sang adik.
Tidak sampai hati rasanya jika harus melanjutkan komunikasi dengan membahas topik makanan dan kesenangan memasak. Cukuplah dengan menekan tombol atau atau sebaris kalimat dukungan untuk setiap aktivitas yang dibagikannyi di FB-nyi.
Tentang buah pala dan kenari, saya juga punya kenangan. Semasa kecil di desa dulu, saya dan teman-teman biasanya mencari buah kenari yang jatuh. Pohon tinggi besar yang tumbuh di tepi sungai itu membuat buah yang berjatuhan lebih banyak ke sungai. Seru saat berusaha memecah biji kenari. Rasa sakit di jari akibat tertumbuk batu ketika berusaha memecahkan bagian kulit yang keras, pulih seketika saat biji kenari yang gurih renyah itu berhasil dikeluarkan dari "cangkangnya". Wajar saja harga kacang kenari jauh lebih mahal dibandingkan dengan kacang mede jika dipakai sebagai topping kue brownies.
Buah pala juga unik. Beda asal, beda pula cara memanfaatkannya. Ketika dulu saya di Manado, daging buah pala biasa dijadikan manisan. Teksturnya renyah karena cara pembuatannya direndam di air gula selama berhari-hari. Ada juga yang ditambahkan cabai untuk jenis manisan pala rasa pedas. Biji pala dijual terpisah, pun kulit tipis yang melapisi biji pala itu juga dimanfaatkan, dikeringkan dan dijual tersendiri, namanya fuly. Ini banyak dibeli orang sebagai oleh-oleh khas Manado.
Sedangkan buah pala yang biasa ditemukan di Bogor, berbentuk manisan kering, diberi warna hijau dan bertabur gula putih. Es buah pala yang segar, disandingkan dengan semangkuk soto kuning yang khas itu, merupakan paduan kuliner yang hanya bisa ditemukan di Suryakencana di kota Bogor. Yummy.
Nama Des Alwi disebut dalam tulisan Disway hari ini, membuat saya perlu mengenang kembali jasa mendiang. Bukan jasa yang diberikan kepada saya tetapi kepada pimpinan saya ketika saya masih bekerja di Jawa Pos dulu –Bapak Dahlan Iskan. Tidak banyak orang yang tahu, bahkan mungkin tidak percaya, namun kenyataan itulah yang saya alami.
Suatu ketika di tahun 2005, saya mendapat tugas yang cukup "mendebarkan", mengurus visa Inggris atas nama Bapak Dahlan Iskan.
Mendebarkan karena instruksi tersebut saya terima kurang dari 3 hari kerja, waktu minimal yang dibutuhkan untuk pengurusan visa pada umumnya. Maka seseorang dari Travel agen yang sudah berpengalaman mengurus visa, saya minta untuk mendampingi saya. Hari itu, Kamis, saya sudah berada di sebuah Biro di Plaza Abda Jl. Jend. Sudirman, Jakarta untuk menyerahkan form permohonan visa yang sudah ditandatangani oleh Bapak Dahlan Iskan.
Ternyata, nama yang bersangkutan, yang tertulis sebagai pemohon visa yang harus menghadap, tidak bisa diwakilkan. Saya segera menelepon ke atasan saya di Surabaya, Ibu Nany Widjaja. Beliau mengatakan: "Bapak sedang di Jakarta, hubungi saja". Dengan sedikit rasa takut namun saya beranikan diri menghubungi nomor beliau dan mendapat jawaban: "saya sedang di Ancol, cukup tidak waktunya jika saya ke sana sekarang?" "Cukup," jawab saya meyakinkan. Setibanya di tempat, bertepatan dengan pemberitahuan dari petugas yang mengatakan," pelayanan ditutup sementara, waktunya istirahat".
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id