Ragam . 22/05/2026, 18:08 WIB
Meski peluang pasar global semakin terbuka, pemerintah menegaskan prioritas utama tetap memastikan kebutuhan pangan nasional berada pada kondisi aman.
“Semua ekspor dihitung cermat. Jangan sampai kebutuhan dalam negeri justru terganggu,” tegasnya.
Perkembangan ketahanan pangan Indonesia saat ini menunjukkan perubahan besar. Produksi beras nasional tahun 2025 mencapai sekitar 34,69 juta ton atau surplus lebih dari 3,5 juta ton dibanding kebutuhan nasional sekitar 31 juta ton. Sepanjang 2025 Indonesia juga tidak melakukan impor beras medium.
Cadangan beras pemerintah yang kini menembus lebih dari 5,3 juta ton. Selain itu, berdasarkan proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026, sebanyak 8 dari 11 komoditas strategis nasional diproyeksikan tidak memerlukan impor, yakni beras, jagung, bawang merah, cabai besar, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, dan gula konsumsi. Jagung pakan bahkan telah menghentikan impor sejak 2025 karena produksi nasional dinilai mampu menopang kebutuhan dalam negeri.
Penguatan sektor pangan juga ditopang reformasi pupuk dan energi nasional. Pemerintah menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi hingga 20 persen sejak Oktober 2025 melalui efisiensi industri dan distribusi tanpa tambahan beban APBN. Di sektor energi, pemerintah mulai menerapkan mandatori Biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026 yang diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun.
Di tengah ancaman krisis pangan global, Indonesia kini tidak lagi hanya fokus menjaga kebutuhan domestik, tetapi mulai memperkuat peran sebagai pemasok pangan dunia sekaligus membangun sistem pangan nasional yang lebih tangguh.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id