Internasional . 21/05/2026, 23:16 WIB
fin.co.id – Hubungan diplomatik antara Washington dan Teheran kini memasuki babak baru yang sangat krusial. Pemerintah Iran mengumumkan bahwa mereka telah menerima lembar “pandangan” dari pihak Amerika Serikat (AS). Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi bahwa saat ini otoritas Teheran tengah meninjau secara mendalam isi pesan dari negara adidaya tersebut.
Esmaeil Baghaei selaku Juru Bicara Kementerian Luar Negeri menyampaikan informasi tersebut kepada televisi pemerintah Iran pada Rabu, 20 Mei 2026 malam. Menurut laporan dari kantor berita pemerintah IRNA, kedua belah pihak sudah melangsungkan beberapa putaran pertukaran pesan yang berbasis pada proposal awal usulan Teheran yang berisi 14 poin penting.
“Kami telah menerima pandangan AS, dan saat ini sedang ditinjau,” kata Esmaeil Baghaei.
Proses diplomasi tingkat tinggi ini melibatkan pihak ketiga sebagai fasilitator utama. Baghaei menambahkan bahwa kunjungan kembali Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, ke Teheran memiliki misi khusus. Kedatangan pejabat tinggi tersebut bertujuan untuk membantu serta mempermudah jalannya pertukaran pesan antara pihak Iran dan AS.
Saluran penyiaran pemerintah Iran, IRIB, melaporkan bahwa Naqvi tiba di Teheran pada hari Rabu. Kunjungan diplomatik ini menjadi kedatangan keduanya ke wilayah Iran dalam kurun waktu kurang dari satu minggu terakhir.
Di sisi lain, Trump memberikan respons mengenai perkembangan diplomasi ini pada hari Rabu malam. Ia menyebutkan bahwa proses negosiasi antarnegara tersebut sudah berada di fase krusial, namun ia memilih untuk bersikap santai.
Trump kemudian pada hari Rabu mengatakan negosiasi berada di "tahap akhir," tetapi menegaskan bahwa ia "tidak terburu-buru" untuk menyelesaikannya.
Sejumlah sumber dari pemerintah Pakistan yang mengetahui persis jalannya diplomasi ini membocorkan informasi kepada Anadolu. Mereka menyebut bahwa perundingan yang rapuh antara Washington dan Teheran sudah memasuki tahap yang sangat sensitif setelah kedua belah pihak saling melempar proposal baru pada minggu ini.
Sumber-sumber diplomatik tersebut memaparkan beberapa poin penting mengenai dokumen penawaran terbaru:
Ketidaksepakatan mengenai garis waktu (timeline) penyelesaian program nuklir memicu perdebatan sengit antara kedua belah pihak. Berdasarkan draf proposal Iran yang berisi 14 poin, Teheran menginginkan adanya pemisahan jalur pembahasan untuk perkara sensitif ini.
Teheran mengajukan draf agar negosiasi terpisah mengenai program nuklirnya—termasuk di dalamnya pembahasan mengenai isu uranium yang diperkaya—baru berjalan dalam waktu 30 hari setelah kedua negara mencapai kesepakatan gencatan senjata permanen.
Namun, pihak Washington memegang prinsip yang bertolak belakang. Amerika Serikat menuntut agar isu pembersihan nuklir tersebut harus "dibahas dan diselesaikan" terlebih dahulu sebelum kedua belah pihak menandatangani kesepakatan gencatan senjata permanen.
Di samping perdebatan lini masa urusan nuklir tersebut, kedua negara juga masih alot merumuskan sistem pengawasan di lapangan. Sumber pemerintah Pakistan menambahkan bahwa usulan mengenai mekanisme “pemantauan pihak ketiga” hingga saat ini juga masih berada dalam tahap pembahasan yang intens, terutama dari pihak Iran.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id