Langkah pemeriksaan dilakukan secara bertahap sesuai kondisi pasien. Dengan diagnosis yang lebih cepat, peluang penanganan juga menjadi lebih baik.
Bayi Baru Lahir Kini Wajib Jalani Skrining
dr. Yovi menjelaskan bahwa pemeriksaan oksimetri pada bayi baru lahir kini sudah menjadi prosedur operasi standar yang direkomendasikan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi kemungkinan penyakit jantung bawaan kritis sejak dini. Prosesnya dilakukan dengan mengukur saturasi oksigen pada tangan dan kaki bayi.
“Jadi bayi baru lahir diperiksa oksimetrinya atas sama bawah. Kaki sama tangan...,” ujar dr. Yovi.
Pemeriksaan tersebut membantu dokter menilai apakah ada gangguan jantung serius yang membutuhkan tindakan cepat. Karena itu, skrining pada bayi baru lahir memiliki peran penting untuk mencegah komplikasi yang lebih berat di kemudian hari.
Penanganan Bisa Tanpa Operasi Besar
Penanganan penyakit jantung bawaan tidak selalu berakhir di meja operasi. dr. Yovi mengatakan dokter dapat memberikan terapi obat-obatan terlebih dahulu sambil memantau perkembangan pasien.
Selain itu, tindakan intervensi non-bedah seperti kateterisasi juga dapat menjadi pilihan. Bahkan, kini tersedia metode Zero Fluoroscopy Procedure yang dilakukan tanpa radiasi dengan bantuan echocardiography (TTE/TEE).
Metode tersebut hadir untuk mengurangi risiko paparan radiasi berulang terhadap pasien maupun dokter operator. Paparan radiasi dalam jangka panjang diketahui dapat berdampak buruk bagi kesehatan sehingga sebisa mungkin perlu dihindari.
Jika kondisi pasien membutuhkan tindakan lebih lanjut, dokter juga dapat mempertimbangkan operasi sesuai tingkat keparahan penyakit.
Orang Tua Jangan Tunggu Gejala Berat
Penyakit jantung bawaan sering sulit dikenali karena gejalanya tampak mirip gangguan kesehatan biasa. Namun, orang tua sebaiknya tidak menunggu sampai kondisi anak memburuk.
Baca Juga
Ketika bayi terlihat mudah lelah saat menyusu, berat badan sulit naik, atau bibir tampak kebiruan, pemeriksaan ke dokter perlu segera dilakukan. Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang anak mendapatkan penanganan yang tepat dan kualitas hidup yang lebih baik. (ANTARA)