fin.co.id -
Perhelatan Piala Dunia 2026 dipastikan akan menghadirkan sejumlah perubahan besar, khususnya dalam aturan pertandingan. Keputusan ini merupakan hasil kesepakatan antara FIFA dan IFAB dalam pertemuan khusus yang digelar di Vancouver pada 29 April 2026.
Perubahan ini tidak hanya berdampak pada strategi permainan, tetapi juga berpotensi mengubah jalannya pertandingan secara keseluruhan. Salah satu yang paling disorot adalah aturan akumulasi kartu kuning yang kini dibuat lebih longgar.
Akumulasi Kartu Kuning Dihapus di Fase Krusial
Dalam edisi sebelumnya, pemain yang mengantongi dua kartu kuning dalam lima pertandingan sebelum babak perempat final harus menerima sanksi larangan bermain. Namun, aturan tersebut kini dihapus.
Pada Piala Dunia 2026, akumulasi kartu kuning akan dihapus setelah fase grup dan juga tidak lagi berlaku saat memasuki babak perempat final. Artinya, pemain tetap bisa tampil di laga-laga penting seperti semifinal hingga final tanpa terganjal akumulasi kartu sebelumnya.
Langkah ini diambil untuk memastikan pemain-pemain terbaik tetap bisa tampil di fase krusial, sehingga kualitas pertandingan tetap terjaga dan lebih kompetitif.
Dua Aturan Baru Kartu Merah yang Bikin Wasit Lebih Tegas
Selain soal kartu kuning, perubahan signifikan juga terjadi pada aturan kartu merah. IFAB menetapkan dua kondisi baru yang bisa langsung berujung kartu merah, bahkan tanpa pelanggaran fisik.
1. Menutup mulut saat berbicara dengan lawan
Pemain yang berbicara dengan lawan sambil menutupi mulut menggunakan tangan atau jersey bisa langsung diganjar kartu merah, terutama jika dilakukan dalam situasi konfrontasi.
Aturan ini muncul setelah insiden yang melibatkan Vinicius Junior dan Gianluca Prestianni dalam laga Liga Champions UEFA musim 2025-2026, yang memicu kontroversi dugaan rasisme.
2. Walk-out atau keluar lapangan saat protes
Pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit juga bisa langsung mendapatkan kartu merah. Bahkan, ofisial tim yang memerintahkan hal tersebut juga bisa dikenai sanksi serupa.
Aturan ini merupakan respons atas kejadian di Final Piala Afrika 2025, ketika pemain Senegal melakukan aksi walk-out saat memprotes penalti untuk Maroko.
Format Baru: 48 Tim, Persaingan Lebih Ketat
Selain regulasi pertandingan, Piala Dunia 2026 juga akan menjadi edisi pertama dengan format 48 tim peserta, meningkat dari sebelumnya 32 tim.
Turnamen ini akan digelar di tiga negara sekaligus, yaitu Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko, mulai 12 Juni hingga 20 Juli 2026.
Dengan jumlah peserta yang lebih banyak, sistem pertandingan pun akan semakin kompleks dan kompetitif. Oleh karena itu, penyesuaian aturan dianggap penting untuk menjaga fairness sekaligus kualitas permainan.
Aturan Lain yang Juga Disesuaikan
Tak hanya soal kartu, sejumlah aturan lain juga mengalami penyesuaian, seperti durasi lemparan ke dalam, waktu pergantian pemain, hingga aspek teknis lain yang mendukung kelancaran pertandingan.
Perubahan ini menandakan bahwa sepak bola terus berkembang mengikuti dinamika zaman, termasuk dalam hal sportivitas dan transparansi di lapangan.
Dampak Bagi Pemain dan Tim
Dengan aturan baru ini, pemain diharapkan bisa bermain lebih lepas tanpa khawatir terkena akumulasi kartu kuning di fase penting. Namun di sisi lain, mereka juga harus lebih berhati-hati dalam berinteraksi di lapangan, terutama terkait komunikasi dan protes terhadap wasit.
Jika tidak, kartu merah bisa datang bukan hanya dari pelanggaran keras, tetapi juga dari sikap yang dianggap melanggar etika permainan.
Piala Dunia 2026 pun diprediksi akan menjadi salah satu edisi paling menarik sepanjang sejarah, bukan hanya karena jumlah tim yang bertambah, tetapi juga karena aturan-aturan baru yang siap mengubah wajah sepak bola dunia.