Di Bengaluru misalnya, waktu tunggu kereta pada jam sibuk masih relatif lama. Hal ini membuat MRT kurang kompetitif dibandingkan kendaraan pribadi atau transportasi lain.
Masalah lain yang tak kalah penting adalah konektivitas. Banyak stasiun MRT tidak terintegrasi dengan baik dengan transportasi lanjutan seperti bus pengumpan. Akibatnya, perjalanan menjadi tidak praktis, terutama untuk jarak terakhir menuju tujuan.
Seorang pengamat transportasi menyebutkan, “Masyarakat hanya akan beralih ke transportasi publik jika perjalanan menjadi mudah dan waktu tunggu seminimal mungkin.” Tanpa integrasi yang baik, MRT kehilangan daya tarik utamanya.
Keamanan dan Akses Masih Jadi Tantangan
Di beberapa kota seperti New Delhi, faktor keamanan dan akses juga menjadi perhatian. Bagi sebagian pengguna, terutama perempuan, perjalanan malam hari masih dianggap berisiko.
Selain itu, akses menuju stasiun sering kali tidak ramah pejalan kaki. Trotoar yang kurang memadai membuat perjalanan menuju MRT menjadi tidak nyaman, bahkan untuk jarak yang relatif dekat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan sistem transportasi tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur utama, tetapi juga oleh ekosistem pendukungnya.
Penutup
Pembangunan MRT di India mencerminkan ambisi besar untuk menghadirkan transportasi modern yang efisien dan ramah lingkungan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa infrastruktur saja tidak cukup.
Tarif yang tinggi, konektivitas yang belum optimal, serta masalah akses dan keamanan menjadi faktor utama yang menghambat pertumbuhan jumlah penumpang. Tanpa perbaikan pada aspek-aspek tersebut, MRT berisiko terus menjadi proyek besar dengan pemanfaatan yang belum maksimal.
Ke depan, keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan pengelola untuk menyeimbangkan antara modernisasi dan keterjangkauan. Tanpa itu, tujuan mengurangi kemacetan dan meningkatkan mobilitas perkotaan akan sulit tercapai.
Referensi:
Baca Juga
India has splurged billions on metro trains. But where are the commuters? – BBC News