Beberapa komentar bahkan menyebut Lighter lebih cocok diputar di perjalanan malam panjang daripada di tengah gemuruh stadion yang penuh emosi. Sebuah pujian yang terdengar indah, tapi sekaligus sindiran yang cukup tajam.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ekspektasi terhadap lagu Piala Dunia memang tidak sederhana. Orang tidak hanya mencari musik yang enak didengar, tetapi juga yang mampu membakar semangat kolektif.
Antara Inovasi dan Risiko
Keputusan FIFA menghadirkan konsep multi artis sebenarnya masuk akal di era sekarang. Selera musik global semakin beragam, dan satu lagu saja mungkin tidak lagi cukup untuk mewakili semua orang.
Namun, langkah ini juga seperti berjalan di garis tipis. Terlalu berbeda bisa dianggap kehilangan identitas. Terlalu aman justru dianggap membosankan.
Lighter berada tepat di tengah dilema tersebut. Lagu ini mencoba menjadi sesuatu yang baru, tapi harus membayar harga berupa kritik dari mereka yang merindukan formula lama.
Penutup
Lighter mungkin bukan lagu yang langsung disepakati semua orang sebagai anthem sempurna. Namun justru di situlah letak perannya. Lagu ini membuka babak baru dalam cara Piala Dunia mempresentasikan musiknya.
Di tengah pujian dan kritik, satu hal yang sulit dibantah adalah Lighter berhasil mencuri perhatian dunia. Dan untuk sebuah lagu pembuka, mungkin itu sudah setengah dari kemenangan.
Referensi:
Wikipedia Lighter Jelly Roll and Carin Leon song
Wikipedia FIFA World Cup 2026 Official Album
AS Carin Leon se alia con Jelly Roll en Lighter