Sri Lanka Ambil Alih Kapal Perang Iran setelah AS Tenggelamkan Frigat di Dekat Perairannya

fin.co.id - 09/03/2026, 10:33 WIB

Sri Lanka Ambil Alih Kapal Perang Iran setelah AS Tenggelamkan Frigat di Dekat Perairannya

fin.co.id - Sri Lanka mengambil alih sebuah kapal angkatan laut Iran di perairan dekat wilayahnya setelah insiden dramatis yang terjadi sehari sebelumnya, ketika kapal selam Amerika Serikat menenggelamkan sebuah frigat Iran di Samudra Hindia. Peristiwa ini menjadi salah satu eskalasi terbaru dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Pemerintah Sri Lanka menegaskan bahwa langkah yang diambil semata-mata bertujuan kemanusiaan serta menjaga netralitas negara tersebut di tengah konflik militer yang semakin meluas.

Kapal Perang Iran Ditenggelamkan oleh Torpedo AS

Insiden bermula ketika kapal perang Iran IRIS Dena diserang oleh kapal selam Amerika Serikat di perairan sekitar 40 mil laut dari pantai selatan Sri Lanka. Kapal tersebut merupakan frigat milik Angkatan Laut Iran yang membawa sekitar 180 awak saat serangan terjadi.

Serangan torpedo itu menyebabkan kapal tenggelam dan menewaskan sedikitnya 87 awak kapal. Sejumlah korban selamat berhasil diselamatkan oleh tim penyelamat Sri Lanka, sementara beberapa lainnya sempat dinyatakan hilang di laut.

Serangan ini menarik perhatian dunia karena jarangnya kapal perang modern ditenggelamkan menggunakan torpedo kapal selam. Operasi tersebut disebut sebagai salah satu insiden langka dalam peperangan laut modern.

Sri Lanka Mengambil Alih Kapal Iran Kedua

Sehari setelah insiden tersebut, kapal angkatan laut Iran lainnya bernama IRIS Bushehr meminta izin kepada Sri Lanka untuk memasuki pelabuhan karena mengalami kerusakan mesin.

Setelah melakukan diskusi dengan berbagai pihak, pemerintah Sri Lanka akhirnya mengizinkan kapal tersebut berlabuh dan kemudian mengambil alih pengawasan kapal itu untuk alasan keselamatan. Lebih dari 200 awak kapal kemudian dievakuasi dari kapal tersebut.

Para awak kapal terdiri dari puluhan perwira, kadet, dan pelaut yang kemudian dipindahkan ke fasilitas militer Sri Lanka untuk pemeriksaan kesehatan dan prosedur administrasi.

Kapal tersebut kemudian diarahkan menuju pelabuhan Trincomalee di bagian timur laut Sri Lanka, sementara beberapa awak tetap berada di kapal untuk membantu navigasi bersama Angkatan Laut Sri Lanka.

Sri Lanka Tegaskan Netralitas

Presiden Sri Lanka Anura Kumara Dissanayake menyatakan bahwa negaranya bertindak berdasarkan kewajiban kemanusiaan dan hukum internasional.

Menurut pemerintah Sri Lanka, tindakan tersebut dilakukan untuk melindungi nyawa manusia sekaligus menjaga stabilitas keamanan di wilayah perairan negara tersebut.

Sri Lanka juga menegaskan bahwa negara itu tidak akan memihak dalam konflik militer yang sedang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat.

Makruf
Makruf
Penulis

Penulis FIN.CO.ID