Serba Serbi Ramadhan . 24/02/2026, 18:02 WIB
fin.co.id - Di celah sempit pemukiman padat Kelurahan Larangan Utara, Kecamatan Larangan, aroma harum margarin dan panggangan kue menyeruak ke udara. Di sini, tepatnya di wilayah RW 01, deru oven bukan sekadar tanda aktivitas dapur biasa, melainkan denyut nadi ekonomi warga yang telah bertahan selama lebih dari tiga dekade.
Wilayah yang kini dikenal sebagai "Kampung Nastar" ini bukan sekadar julukan. Di balik pintu-pintu rumah warga, terdapat ekosistem ekonomi kreatif yang tumbuh secara organik. Sebanyak 26 unit usaha rumahan kini aktif berproduksi, tersebar di RT 02 dan RT 05.
Lurah Larangan Utara, Iwan Bambang Subekti, melihat fenomena ini sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas yang paling murni. Warga tidak hanya mencari penghidupan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja bagi tetangganya sendiri.
"Keberadaan Kampung Nastar bukan hanya soal produksi kue, tapi tentang bagaimana warga bisa merangkul satu sama lain untuk bekerja dan menambah omzet keluarga tanpa harus keluar jauh dari wilayah sendiri," ujar Iwan saat ditemui di lokasi.
Estafet Rasa Sejak 1987
Identitas Kampung Nastar tak lepas dari jejak langkah Nuni Aryastuti. Melalui label Nuni Cookies, ia melanjutkan usaha keluarga yang dirintis ibunya sejak tahun 1987. Usaha inilah yang menjadi cikal bakal terbentuknya klaster kue kering di Gang Subur.
Nuni berkisah, kemunculan puluhan unit usaha serupa di lingkungannya justru berawal dari hubungan kerja yang baik. "Karyawan-karyawan kami kemudian banyak yang membuka usaha sendiri di lingkungan ini, hingga akhirnya pengurus RT dan RW mencetuskan nama Kampung Nastar," jelasnya.
Alih-alih merasa tersaingi, kehadiran para kompetitor yang juga tetangganya itu justru memperkuat posisi wilayah mereka sebagai sentra kue kering. Saat menjelang Idulfitri, ritme kerja berubah drastis. Produksi berlangsung 24 jam nonstop dengan sistem pembagian kerja (shift).
Meski kapasitas produksi meningkat tajam hingga menghabiskan 60 kilogram margarin per hari, konsistensi rasa tetap dijaga. Nuni kini mengandalkan oven listrik modern untuk memastikan kematangan dan warna kue tetap seragam.
Menembus Pasar Eropa
Loyalitas pelanggan dan kualitas yang terjaga membawa produk dari gang sempit di Larangan ini melintasi batas negara. Tak hanya menjadi primadona di pasar lokal, pesanan rutin mengalir hingga ke Jerman, Belanda, dan Malaysia.
Bagi warga sekitar, terutama ibu rumah tangga, keberadaan industri rumahan ini adalah berkah musiman yang nyata. Mereka dapat membantu ekonomi keluarga tanpa harus meninggalkan kewajiban domestik terlalu jauh.
Iwan Bambang berharap kemandirian di RW 01 ini dapat menular ke wilayah lain di Larangan Utara. "Harapan saya, semangat Kampung Nastar ini merambah ke RT lain. Manfaatnya jelas untuk menambah pundi-pundi bagi warga dan menciptakan kebanggaan bagi wilayah masing-masing," pungkasnya.
Bagi mereka yang ingin mencicipi langsung renyahnya nastar dari sumbernya, Gang Subur di RT 02 RW 01 selalu terbuka, atau bisa mengintip etalase digital mereka di akun Instagram @nunicookiez. Di sana, ekonomi tumbuh dari kehangatan loyang-loyang kue yang dipanggang dengan ketekunan.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id