Internasional . 09/08/2026, 09:02 WIB

Australia Disebut Jadi Pusat Kepunahan Satwa

Penulis : Makruf
Editor : Makruf

fin.co.id - Australia selama ini dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati paling unik di dunia. Namun di balik kekayaan alam tersebut, Australia kini menghadapi persoalan serius. Negara ini disebut sebagai salah satu pusat kepunahan satwa dunia karena semakin banyak spesies asli yang terancam atau bahkan telah menghilang untuk selamanya.

Ironisnya, di tengah situasi tersebut masih terdapat kisah keberhasilan konservasi yang memberikan harapan. Numbat, mamalia kecil khas Australia yang pernah berada di ambang kepunahan, kini menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah puluhan tahun mendapat perlindungan.

Australia Menghadapi Krisis Kepunahan

Australia memiliki begitu banyak spesies endemik. Lebih dari 80 persen spesies tumbuhan dan hewan di negara tersebut tidak ditemukan secara alami di tempat lain di dunia.

Keunikan itu sekaligus membuat kerusakan habitat menjadi persoalan besar. Ketika suatu spesies endemik Australia menghilang, kehilangan tersebut tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi dapat berarti hilangnya spesies tersebut dari seluruh planet.

Menurut laporan BBC, Australia kehilangan sekitar empat spesies setiap dekade. Para peneliti bahkan memperkirakan jumlah spesies yang benar-benar telah punah jauh lebih tinggi dibandingkan angka resmi pemerintah.

Daftar resmi pemerintah Australia mencatat 67 spesies telah punah. Namun para peneliti memperkirakan sedikitnya 100 spesies tumbuhan dan hewan telah hilang selamanya.

Situasi tersebut membuat Australia menjadi negara dengan catatan kepunahan mamalia yang sangat buruk dibandingkan negara lain.

Habitat Satwa Terus Terdesak

Salah satu penyebab utama kepunahan adalah hilangnya habitat.

Kawasan yang sebelumnya menjadi tempat hidup satwa asli Australia terus mengalami perubahan akibat pembangunan, pertanian, pertambangan, kehutanan, dan aktivitas manusia lainnya.

Fragmentasi habitat juga membuat populasi satwa terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kepunahan karena populasi yang sedikit menjadi lebih rentan terhadap penyakit, bencana alam, perubahan iklim, serta berkurangnya keragaman genetik.

Masalah tersebut kemudian diperparah oleh kehadiran spesies invasif.

Kucing liar, rubah, kelinci, kodok tebu, semut api, serta berbagai tanaman invasif memberikan tekanan tambahan terhadap satwa asli Australia.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id