Ruang Cerita . 21/02/2026, 06:47 WIB
fin.co.id - Hari ini terasa beda bagi Pak Budi. Biasanya, ia memulai pagi dengan membuka lapak. Sebakul nasi uduk, bihun, gorengan, kerupuk, dan sambal kacang jadi menu wajib di lapaknya. Namun, pagi ini ia tak beraktivitas apa pun.
Apakah Pak Budi sudah pensiun? Tak lagi berdagang nasi uduk? Ternyata tidak. Ia hanya mengubah jam dagangnya. Kini, lapak Pak Budi buka di sore hari. Alasannya: bulan Ramadan telah tiba.
Tak hanya waktu dagang yang berubah. Jenis kuliner yang memenuhi lapak Pak Budi pun berbeda. Lapaknya kini kian meriah. Ada lontong, bakwan, pisang goreng, risol, kolak, kue lapis, kue bolu, dan lainnya.
Tapi, satu yang tak ada: nasi uduk! Lho, kok si pemain utama malah absen? Pak Budi punya alasan tersendiri soal itu. "Kalau bulan puasa, orang nyarinya takjil untuk berbuka. Jadi, nasi uduk libur dulu sebulan," ujarnya.
Tak semua menu takjil itu dibuat sendiri oleh Pak Budi. Banyak juga yang titipan orang. "Repot kalau semua kita yang bikin. Jadi, banyak orang nitip dagangan di sini. Tinggal nanti bagi hasil aja," ungkap pria paruh baya itu.
Satu bulan ke depan, Pak Budi tak sendiri. Ada banyak lapak lain yang juga buka. Lapangan kecil di depan sebuah komplek di Karawaci, Tangerang itu pun penuh dengan lapak pedagang takjil.
Menunya serupa, tapi tak sama. Semua berdagang takjil. "Yah, Namanya rezeki. Biar sama-sama dagang takjil, tapi kan soal rasa beda-beda. Ini juga yang jadi faktor habis apa tidaknya dagangan," kata Pak Budi.
Bergeser sedikit dari lapak Pak Budi, ke ujung kanan lapangan, ada lapak Teteh Wati. Sama seperti Pak Budi, biasanya Teh Wati membuka lapak di pagi hari.
Lokasinya pun bukan di lapangan itu, tapi di dalam komplek perumahan. Khusus selama Ramadan, ia pindah ke lapangan kecil ini dan buka setelah Ashar. "Kalau bulan puasa, lebih ramai di sini pembelinya," kata Teh Wati, sapaannya.
Dagangan di lapak Teh Wati tak kalah ramai. Beragam takjil dijajakan, menggoda untuk dibeli. Ada bolu, donat, kolak, bubur manis, aneka es buah, dan tentu saja dua favorit: lontong dan bakwan.
Soal dua jenis kuliner itu, Teh Wati punya penjelasan tersendiri. "Dari semua jenis makanan, lontong dan bakwan selalu paling cepat habis. Orang-orang paling suka itu," jelas Teh Wati.
Sama seperti di lapak lain, Teh Wati menjual lontong disertai dengan sambal kacang yang dibungkus dalam plastik es kecil. Lontong plus sambal kacang, jelas kombiniasi favorit berbuka puasa.
Ada beberapa jenis lontong yang dijajakan di lapak Teh Wati. Ada yang isinya wortel dan kentang. Ada pula yang isinya bihun dan wortel atau oncom. Yang spesial: lontong isi wortel, kentang, dan ayam.
Untuk yang terakhir ini, harganya lebih mahal. "Kalau lontong biasa, harganya Rp3.000. Tapi, kalau yang isinya ayam Rp.5.000," jelas wanita asal Tasik ini.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id