Ruang Cerita . 01/02/2026, 06:23 WIB

Taman Sari, Ketika Arsitektur Menyimpan Rahasia...

Penulis : Lina
Editor : Lina

Yogyakarta pagi itu tidak sedang bercanda dengan panasnya. Baru saja jarum jam menunjuk angka sembilan, namun matahari sudah terasa tepat berada di atas ubun-ubun. Di pelataran masuk kawasan Patehan, aku menyeka peluh yang mulai membasahi kening. Di hadapanku, berdiri kokoh sebuah gerbang putih dengan ukiran relief burung dan bunga yang tampak hidup. Inilah pintu masuk menuju masa lalu, Pesanggrahan Taman Sari.

Selesai membayar tiket masuk seharga Rp15.000, sebuah harga yang terlampau murah untuk sebuah tiket mesin waktu,aku melangkah masuk. Di sisi kiri, seorang pria paruh baya dengan batik lusuh namun rapi menyapa dengan senyum khas Jogja. Beliau adalah pemandu lokal.

"Monggo, saya antar. Untuk jasa, seikhlasnya saja nanti," ucapnya lembut. Kalimat "seikhlasnya" ini selalu berhasil menyentuh sisi humanis siapa pun yang datang ke sini, sebuah bentuk keramahan yang tulus di tengah komersialisasi dunia.

Kami pun mulai menyusuri jalan setapak yang diapit pohon-pohon menjulang. Sambil berjalan, sang pemandu mulai bercerita. Suaranya rendah, mengalun bersama angin pagi. Ia berkisah bahwa taman ini adalah monumen cinta.

Sri Sultan Hamengku Buwono I membangunnya pada tahun 1758 sebagai tanda penghargaan bagi permaisuri yang setia mendampinginya melewati pahit getir Perang Giyanti.

"Taman Sari itu artinya taman yang indah," katanya pelan. "Tapi bagi Sultan, ini lebih dari sekadar taman. Ini adalah simbol ketenangan setelah badai peperangan," sambungnya.

Bayang-bayang di Umbul Binangun

Langkah kaki membawa kami menuruni anak tangga menuju pusat keajaiban, Umbul Pasiraman atau Umbul Binangun. Begitu melewati celah bangunan, pandanganku langsung tertumpu pada dua kolam besar dengan air berwarna biru kehijauan yang tenang. Luasnya sekitar 12x30 meter, dikelilingi tembok putih tinggi yang menjaga privasi siapa pun di dalamnya.

Di sini, aku terdiam sejenak. Jika aku menutup mata, aku seolah bisa mendengar suara tawa para putri keraton dan gemericik air dari pancuran bermotif teratai. Dulu, di sinilah Sultan bersama keluarga menghabiskan waktu, menjauh sejenak dari urusan takhta yang melelahkan.

Ada sisi melankolis saat melihat pot-pot bunga jangkung yang berjajar rapi di pinggir kolam. Arsitekturnya unik, perpaduan gaya Jawa yang kental dengan sentuhan Eropa, Hindu, bahkan China. Kabarnya, seorang arsitek Portugis yang dikenal sebagai Demang Tegis turut andil dalam merancang kemegahan "Water Kasteel" ini.

"Lihat gedung yang tinggi itu, mbak," tunjuk sang pemandu ke arah Gedhong Gapura Panggung. "Dari sana, Sultan bisa melihat seluruh area kolam. Arsitekturnya dirancang agar suara air dan angin bisa masuk dengan sempurna."

Aku mendongak, melihat relief yang begitu detail. Setiap lekukan semen dan batu di sini menyimpan rahasia tentang bagaimana kekuasaan dan estetika bisa bersatu dalam harmoni yang sunyi.

Rahasia di Bawah Tanah: Sumur Gumuling

Perjalanan berlanjut melewati perkampungan penduduk yang dulunya adalah kebun buah dan bunga-bungaan milik kerajaan. Kini, lorong-lorong sempit di Patehan dipenuhi oleh galeri batik dan aroma makanan lokal. Namun, rahasia terbesar Taman Sari justru tersembunyi di bawah permukaan tanah.

Kami memasuki sebuah lorong gelap yang lembap. Udara di sini terasa lebih dingin, kontras dengan terik matahari di luar. Ini adalah jalan bawah tanah yang dulu berfungsi ganda, sebagai jalur pelarian saat kondisi darurat, sekaligus penghubung menuju masjid bawah tanah yang legendaris, Sumur Gumuling.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id