Catatan Dahlan Iskan . 25/01/2026, 06:11 WIB

Hady Alan

Penulis : Lina
Editor : Lina

Jadi salah kita/ rakyat sendiri mau “dihipnotis” para politikus untuk memilihnya. :) Secara struktur kalimat, seperti analisis tajam MSDI, gak ada yang salah kok Gibran “ngomong gitu”. Dia khan “gak janji!” :) Dia cuma “bilang” JIKA bla bla bla Insya Allah bla bla bla. :) Kita menafsirkannya sebagai janji padahal menurut dia, dia tidak berjanji, ya memang salah kita menafsirkannya. Contoh satire nya adalah program rumah DP nol Anies di Jakarta 2017. Mana ada sih politikus yang tidak ingin menang debat dan terpilih? Perkara menurut Ahok itu gak masuk akal, ya biarin, “yang penting khan gue out of the box! Perkara gue gak bisa mewujudkan konsep gue (bukan janji gue lho ya!) itu soal lain.” Mari kita simak lagi kata-kata Anies di youtube berikut: Rumah Susun Ahok Vs Pendanaan Rumah 0 Rupiah Anies - Debat Putaran II 12/04. INews. 12 Apr 2017. Anies pintar debat dan mengajukan konsep out of the box! Adakah dia berjanji? Tidak tuh. :) Dia hanya mengajukan sebuah konsep/teori. “Kami tidak membicarakan pembangunan rumah, kami hanya membicarakan pembiayaannya.” :):):) Perkara bisa jalan di lapangan sehingga jutaan rakyat berpenghasilan rendah bisa punya rumah di Jakarta itu soal lain! :):):) Khan kami gak janji membangun! Cuma membiayai! :):):)

Liáng - βιολί ζήτα

iseng-iseng saja

Kata "jika" di dalam psikologi bisa dimaknai sebagai berikut :

1). Tersirat suatu niat yang kuat untuk mengimplementasikan sesuatu, di dalam kondisi tertentu.

2). Bisa jadi berupa bias kognitif, terutama di dalam debat - untuk mengcounter tekanan pendebat.

3). Atau bisa sebaliknja, justru sebagai fenomena rasa percaya diri yang berlebihan, seolah-olah hanya dirinya sendiri yang memiliki pemikiran tersebut.

Sebagaimana kita maklumi, di dalam debat pemilihan umum, sepertinya menjawab dengan lancar berbagai persoalan dengan pemikiran yang out of the box "lebih diapresiasi" ketimbang pelaksanaan nantinya.....

Untuk menciptakan lapangan kerja sebanyak 19 juta..... meskipun diawali dengan kata "jika" dan berlindung dibalik kata "Insya Allah"..... mestinya Pak Gibran menguraikan berapa investasi yang mesti dialokasikan sehingga tercipta lowongan kerja sebanyak itu ?? Dari mana sumber dana investasi tersebut ?? Investasinya untuk jenis usaha apa saja ?? Apakah tenaga kerja yang menganggur saat ini sesuai kemampuannya dengan lowongan kerja yang akan tercipta tersebut ?? Bagaimana dengan infrastruktur untuk investasi sebesar tersebut ?? Dan masih begitu banyak pertanyaan lainnya yang terkait.....

Oleh karena Pak Gibran tidak menguraikannya secara rinci, maka pernyataan Pak Gibran tersebut cenderung ke point nomor 2 di atas.....

yea aina

(Typo koment di bawah)

Banyak orang tidak menyangka (tatanan ekonomi) dunia berubah secepat ini. Komentar Abah DIS: Biarlah, tidak apa-apa dan apa boleh buat.

Mungkin opini yang sama menurut banyak orang di sini. Toh tanpa kemakmuran yang maju pesat, menurut riset Universitas Harvad: negeri ini peringkat teratas untuk kesejahteraan menyeluruh.

Indonesia dinilai unggul dalam hubungan sosial dan karakter pro-sosial. Dua faktor penentu terbentuknya keterhubungan dan komunitas yang kuat.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id