Ruang Cerita . 25/01/2026, 10:45 WIB

Bassis ICU

Penulis : Sigit Nugroho
Editor : Sigit Nugroho

"Kalau lihat pasien sembuh, rasanya senang sekali. Dokter senang, nakes senang, keluarga apalagi," ujarnya.

Sisi positif lainnya: insentif nakes saat Covid cair. Dari uang itu Bams bisa merenovasi rumah, menabung, hingga membeli mobil. Berkah dari kerja keras di garis depan.

Bassis ICU

Hermanus Bambang a.k.a Bams, dengan Bass trendy miliknya

Di luar kesibukan ICU yang tegang, Bambang punya pelarian: main bass. Ia penggemar berat Bondan Prakoso dan Chua Kotak. Mungkin ritme jantung pasien di monitor ICU mirip dengan dentuman bass yang ia mainkan: harus terjaga, jangan sampai berhenti.

Jiwa perawatnya tidak hanya berhenti di rumah sakit. Saat varian Delta mengamuk, tetangganya –Pak Agus– jatuh sakit parah. Saturasi oksigennya anjlok ke 93. Badannya kurus kering, sehari susut satu kilogram.

Setiap jam 5 pagi, sebelum berangkat kerja, Bams dengan baju hazmatnya, mampir ke rumah Pak Agus. Sorenya, pulang kerja, ia mampir lagi. Memberikan obat, mengatur oksigen, dan yang terpenting: memberi motivasi. Pak Agus akhirnya selamat.

Kini Bams punya satu pesan untuk Anda semua: jangan sampai telat ke rumah sakit. Banyak pasien ICU sulit tertolong karena organ tubuhnya sudah telanjur rusak saat dibawa ke RS.

Bams sudah 10 tahun di sana. Ia tetap siaga. Tetap memegang bass-nya di waktu senggang. Dan tetap bangga menjadi perawat –pilihan ayahnya yang ternyata menjadi jalan hidupnya yang paling berarti. (Sigit Nugroho)

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id