Makanan bukan sekadar pengisi perut. Kehadirannya mewakili bahasa, simbol, bahkan ingatan kolektif. Termasuk di Kota Tangerang yang memiliki segudang kuliner legendaris. Mulai dari laksa hingga bakcang.
Khanif Lutfi - Tangerang
Menurut penelitian UNESCO tentang Intangible Cultural Heritage of Food (2021), kuliner memegang peran penting dalam melestarikan identitas budaya sekaligus membangun kohesi sosial. Itulah mengapa warisan kuliner selalu dipandang lebih dari sekadar resep.
Kota Tangerang adalah contoh nyata dari itu semua. Letaknya yang strategis di tepi Sungai Cisadane, berdekatan dengan Batavia di masa kolonial, menjadikannya simpul pertemuan budaya.
Di sini, jejak Betawi, Tionghoa, Sunda, hingga budaya dan etnis lainnya berpadu untuk kemudian mengalir dalam satu wadah, yakni meja makan.
“Kalau kita telusuri, kuliner Tangerang itu sebenarnya cermin percampuran tradisi agraris dengan budaya migran. Ada yang mengakar dari sawah, ada pasar, tapi juga ada ritual dan perayaan,” ujar sejarawan lokal yang aktif mengkaji warisan budaya tak benda Mushab Abdu Asy Syahid.
Baginya, rasa tidak pernah lahir di ruang kosong. Tapi, justru setiap hidangan menjadi kamera yang merekam jejak penting perjalanan peradaban manusia.
Itu sebabnya, sajian khas Tangerang tidak bisa dilepaskan dari kisah percampuran ini. Dari beras yang menggantikan bihun untuk diolah jadi laksa, juga bakcang dengan aroma petis yang melekat kuat pada ritual budaya.
Baca Juga
Sementara pengaruh pesisir Betawi menghadirkan ragam masakan ikan, perantau dari sisi timur Pulau Jawa juga turut memberi warna lewat hidangan berbasis daging dan bumbu hitam legendarisnya.
Lebih jauh, kuliner Tangerang telah bertransformasi menjadi identitas sekaligus daya tarik wisata.
Sebagaimana dicatat dalam Journal of Culinary Heritage Studies (2022), “Makanan tradisional yang bertahan di ruang urban menandai keberhasilan komunitas menjaga jati dirinya,”
Kota Tangerang dengan laksa, bacang, dan nasi jagalnya, memberi contoh nyata bagaimana tradisi tidak hanya lestari, tetapi juga relevan di tengah modernitas.
Maka, setiap sendok kuah atau sepotong jajanan pasar yang kita nikmati hari ini, sesungguhnya adalah potongan kecil dari sejarah panjang peradaban Tangerang. Sejarah yang tidak sekadar dituliskan, melainkan dihidangkan.
Tidak semua makanan bisa disebut warisan. Butuh sejarah panjang, peran budaya, dan kesinambungan sosial yang membuatnya layak diakui.