Ruang Cerita

Sejarah Tak Hanya Ditulis, Tapi Juga Dihidangkan

Makanan bukan sekadar pengisi perut. Kehadirannya mewakili bahasa, simbol, bahkan ingatan kolektif.

Sejarah Tak Hanya Ditulis, Tapi Juga Dihidangkan
Laksa Tangerang lahir dari tradisi agraris. Bahan dasarnya, beras, kelapa, dan rempah, mencerminkan hasil bumi masyarakat Cisadane yang dulunya didominasi komoditas padi.

Semuanya berpadu sempurna di dalam balutan sederhana. Makanan ritual ini awalnya dibawa imigran Tionghoa, namun kini dinikmati lintas budaya, jadi simbol kebersamaan dan toleransi antar-sesama.

Kecap Benteng juga punya kisah panjang. Diracik dengan fermentasi kedelai ala Tionghoa, lalu disesuaikan selera Nusantara.

Mulanya rasa kecap didominasi sensasi asin. Namun, rasa manis-gurihnya justru setia hadir di meja makan warga Tangerang sejak era kolonial. Menyesuaikan dengan selera lidah lokal yang tertanam sejak lama.

“Rasa inilah yang membuat kami berbeda, karena makanan selalu lahir dari pertemuan budaya,” tutur Achonk menegaskan.

Dari Laksa, Bacang, hingga Kecap Benteng, setiap suapan sejatinya adalah cerita. Bahwa kuliner bukan hanya penanda identitas, tetapi juga jembatan akulturasi budaya yang hidup hingga kini di Kota Tangerang.

Berita Terkait