Di balik debur ombak Teluk Cilacap yang keras dan reputasi kelam yang melekat puluhan tahun, Pulau Nusakambangan perlahan menunjukkan wajah lain.
Mihardi - CILACAP
Pulau yang terletak di selatan Cilacap, Jawa Tengah, ini memang lama dikenal sebagai rumah bagi lembaga pemasyarakatan berkeamanan tinggi. Namun di balik tembok tebal dan pengawasan ketat, tumbuh cerita tentang pembinaan, ketahanan pangan, dan upaya memulihkan manusia.
Secara geografis, Nusakambangan terpisah dari Pulau Jawa oleh Selat Segara Anakan. Laut menjadi pagar alami, sementara gelombang Teluk Cilacap memperkuat fungsi pengamanan.
Kondisi alam ini sejak awal dimanfaatkan sebagai bagian dari sistem pemasyarakatan, membuat pulau tersebut ideal untuk penempatan lapas dengan tingkat risiko tinggi.
Untuk mencapai Nusakambangan, perjalanan laut menjadi satu-satunya pilihan. Dari Pantai Teluk Penyu atau Dermaga Wijayapura, perahu kecil hingga kapal sewaan membawa orang menyeberang menuju sejumlah dermaga di pulau. Akses yang terbatas itulah yang selama ini membentuk citra Nusakambangan sebagai pulau tertutup dan misterius.
Kompleks Lapas dan Kehidupan di Dalamnya
Di Nusakambangan berdiri belasan lembaga pemasyarakatan dengan fungsi berbeda, mulai dari lapas terbuka hingga lapas dengan pengamanan maksimum dan high risk. Setiap lapas memiliki peran spesifik dalam sistem pembinaan, tidak semata-mata soal pengurungan, tetapi juga pengelolaan perilaku dan keterampilan warga binaan.
Kasi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Pasir Putih Nusakambangan, Eko Budihartanto, menyebut pulau ini sebagai kawasan pemasyarakatan terpadu. “Di Nusakambangan terdapat berbagai jenis lapas dengan karakter berbeda, sehingga pembinaan bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat risiko warga binaan,” ujarnya
Eko yang menetap di rumah dinas di pulau tersebut juga menyoroti perubahan orientasi pengelolaan. Salah satunya melalui pemanfaatan lahan secara produktif.
Baca Juga
Dari Jeruji ke Lahan Produktif
Sisi lain Nusakambangan mulai tampak dari hamparan lahan yang kini dibuka untuk pertanian. Program pembukaan kebun kelapa seluas sekitar 500 hektar menjadi salah satu contoh nyata. Program ini dijalankan melalui kerja sama lintas lembaga dan diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus pembinaan kemandirian warga binaan.
“Lahan ini bukan hanya soal produksi, tapi juga sarana belajar dan membangun tanggung jawab,” kata Eko.
Melalui kegiatan kerja, warga binaan dilibatkan dalam proses yang mendidik disiplin, keterampilan, dan kesiapan kembali ke masyarakat.
Pendekatan ini menegaskan bahwa pemasyarakatan tidak berhenti pada hukuman, melainkan berlanjut pada proses perbaikan diri.