Opini . 19/11/2025, 14:18 WIB
Oleh: Irvan Kurniawan
Dosen Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UPN Veteran Jawa Timur
Perubahan iklim global memicu anomali cuaca ekstrem, termasuk periode curah hujan tinggi yang berkepanjangan. Meskipun air adalah elemen vital bagi pertanian, kelebihan air justru membawa dampak negatif yang signifikan, terutama dalam memicu lonjakan populasi hama dan penyakit pada tanaman.
Petani diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan strategi mitigasi yang adaptif.
Konsep ini berasal dari Ilmu Penyakit Tumbuhan, tetapi juga dapat diterapkan dalam bidang ilmu hama. Penyakit hanya dapat terjadi jika ketiga faktor, yaitu patogen, inang, dan lingkungan, saling mendukung. Inang dalam kondisi rentan, patogen bersifat virulen (tingkat infeksi tinggi) dan jumlah yang memadai, serta lingkungan yang kondusif. Lingkungan terdiri dari komponen fisik (suhu, kelembaban, cahaya) dan biotik (predator alami, organisme kompetitor). Dari konsep tersebut, jelas bahwa perubahan pada salah satu komponen akan memengaruhi intensitas penyakit yang muncul.
Curah hujan yang intens menciptakan kondisi mikro-iklim yang sangat ideal bagi perkembangbiakan patogen tertentu, terutama dari kelompok jamur (fungi) dan bakteri.
Curah hujan ekstrem tidak hanya memicu penyakit, tetapi juga dapat memengaruhi siklus hidup hama serangga.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id