"Kehadiran AI hanya membantu bukan sebagai senjata utama untuk menulis cerita," ungkapnya sambil sesekali minum boots juice yang dipesannya.
Walau canggihnya AI bisa membuat naskah film yang menarik dengan berbagai genre, namun cerita tersebut bisa dibedakan dengan identitasnya sebagai penulis tersebut.
"Seorang penulis film memiliki identitasnya dan karakternya sendiri. Karena ada bagian dari diri kita yang tertuang dalam penulisan berdasarkan pengalaman," terangnya.
"Kalau penulis asli itu sudah pasti ada karakternya ketika membaca. Misalnya naskahnya Riri Riza dan Joko Anwar yang mencoba menaruh karakteristik tulisanya kemudian dieksekusi menjadi bentuk film," sambungnya.
Di tengah diskusi hangat kami, muncul teman Rangga sekaligus sutradara bernama Daffa Sudaryono. Penampilannya seperti sutradara ternama seperti Angga Dwimas Sasongko yang memakai kacamata putih bening dan rambut lurus pendek.
Ia duduk dan ikut berdiskusi bersama kami. Rangga menegaskan, jika naskah film yang ditulis oleh manusia pasti adanya ketidaksempurnaan "Itu yang membuatnya jadi indah".
Sebagai penulis film, tentu tantangannya mencari ide segar yang bisa diterima penonton. Namun adanya AI dengan algoritma yang bisa menulis skenario dalam hitungan detik menjadi tantangan baru.
"Itu sangat memungkinkan, para penulis menceritakan dengan hati dan perasaan dalam naskah dan tak tergantikan oleh AI. Jadi tergantung manusianya sendiri dalam membuat naskah. Apakah mau berkembang? Karena lawan kita bukan hanya sesama manusia melainkan teknologi yang terus berkembang," ungkapnya.
"Sebagai penulis naskah harus menyesuaikan diri dan terus upgrade diri sendiri," tambahnya.
Profesi sebagai penulis cukup menyenangkan dan menantang karena bisa mencurahkan isi pikiran dan hati dalam sebuah naskah. Yang nantinya akan diangkat di bioskop.
Baca Juga
Tak terasa diskusi kami sore itu makin seru bersama Rangga dan Daffa. Saya turut bangga dengan teman kuliah yang kini mulai menggapai cita-citanya sebagai pembuat skenario film. Ia berharap karyanya bisa masuk ke bioskop Cinema XXI dan Cinepolis dalam waktu dekat.
Meski masih ingin berdiskusi, tapi kami harus berpisah. Rangga dan Daffa harus melakukan pekerjaanya dan saya harus menyelesaikan tulisan ini.
Mereka berdua pamit pergi. Saya masih duduk sendiri dan asyik melihat derasnya hujan. Seketika hati saya kalut. Memikirkan calon istri saya berinisial (D). Tidak ada pesan darinya setelah saya WhatsApp dua hari yang lalu. Saya kepikiran untuk menuangkannya menjadi sebuah cerita. Siapa tahu bisa diangkat menjadi film romantis atau bahkan film horor.