Ruang Cerita . 02/11/2025, 13:30 WIB

Antara AI, Imajinasi dan Hati

Penulis : Ari Nur Cahyo
Editor : Khanif Lutfi

Kehadiran kecerdasan buatan dalam sebuah seni menjadi tantangan tersendiri. Bisa menjadi ancaman atau bahkan bala bantuan. Kali ini, fin.co.id berkesempatan mewawancarai seorang penulis skrip. Ia banyak memberikan pandangannya. Gempuran seni di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Ari Nurcahyo - Jakarta

Dalam dunia pembuatan film, skenario adalah kuncinya. Bentuk seni dalam tulisan yang akan membawa penonton membangkitkan emosi. Skenario juga diperkuat dengan kehadirannya seorang aktor yang memerankan. Sehingga terciptalah pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.

Ada banyak para pemula yang ingin terjun dunia perfilman. Namun, menulis sebuah cerita bukan hanya sekedar menulis. Melainkan banyak faktor yang harus diperhatikan.

Dunia perfilman saat ini sudah mengalami perubahan besar. Pembuatan cerita dan skenario yang awalnya bergantung pada imajinasi dan data, kini kecerdasan buatan (AI) mulai ikut “menulis” di balik layar.

Bukan cuma sekedar membantu, teknologi AI mampu membuat draft skenario, menyusun dialog, bahkan memberikan alternatif plot dengan detail yang cukup realistis. Kehadirannya membuat proses kreatif di industri film jadi lebih cepat dan efisien.

Pertanyaan adalah, bagaimana orisinalitas dalam sebuah skenario film dengan kehadirannya AI? fin.co.id berkesempatan berbincang Rangga Dipa Yakti. Seorang pembuat skenario film. Ia memberikan pandangannya mengenai kehadirannya AI dalam dunia seni tulis.

Sabtu 1 November 2025 sore, fin.co.id janjian bertemu dengan Rangga di Mall Senayan City, Jakarta pukul 17.00 WIB. Saya sampai lebih dulu setelah melewati derasnya hujan yang mengguyur ibu kota.

Saya harus menunggu sebentar karena sang narasumber harus menyelesaikannya pekerjaanya lebih dulu. Sambil menunggu, saya membeli cemilan dan minuman lalu duduk sebuah bangku yang dekat di jendela.

Tak lama, Rangga dengan pakaian casual serta lanyard yang menggantung dilehernya tiba. Di momen itu, kami berbincang mengenai pandangannya sebagai pembuat skenario film dengan kehadiran AI.

Menurutnya, kehadiran AI cukup membantu dalam penulisan. Karena membuat cerita membutuhkan riset, pengalaman pribadi, dan lain sebagainya. Akan tetapi AI tidak bisa digunakan dalam pembuatan naskah sepenuhnya.

"Jika semua orang menggunakan AI untuk membuat naskah atau kreatif lainnya, nantinya jadi template dan mencederai orisinalitas," ucapnya.

AI Boleh Pintar, Tapi Cerita Butuh Rasa

(Kiri-kanan) Rangga Dipa Yakti dan Daffa Sudaryono saat mempromosikan film pendeknya.

Sang penulis film pendek "The Bag" ini meneruskan, jika pembuatan cerita membutuhkan isi pemikiran dan perasaan yang ingin disampaikan kepada penonton. Maka dari itu AI hanya sebatas membantu.

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id