Catatan Dahlan Iskan

Khoja Mamdani

Nasib Zohran Mamdani kelihatannya lagi baik. Calon wali kota New York yang beragama Islam ini memang dipojok-pojokkan sebagai sosialis ekstrem. Tapi pemilih yang moderat lagi terpecah tiga: dua dari independen, satu dari partai Republik.

Khoja Mamdani
Zohran Mamdani menjadi Wali Kota New York City pertama yang berasal dari kalangan Muslim dan keturunan Asia Selatan seusai dilantik pada Rabu malam menjelang Tahun Baru 2026.

Islam yang mana?

Islam syi'ah.

Syi'ah yang mana?

Syi'ah Ismaili. Bukan syi'ah 12 imam.

Syi'ah Ismaili adalah syi'ah yang dipimpin oleh Agha Khan. Ketika kalah oleh mayoritas di Persia, mereka menyingkir ke timur. Ke India.

India (termasuk Pakistan) waktu itu dijajah Inggris. Pun Afrika Timur. Maka di pertengahan tahun 1800-an Inggris membuka kesempatan bagi orang India untuk ke Afrika Timur. Ke Tanzania, Madagascar, Somalia, sampai ke Uganda.

Ayah Zohran Mamdani termasuk yang berimigrasi ke Uganda. Jadi ilmuwan di Kampala. Zohran pun lahir di ibu kota Uganda.

Anda sudah tahu: tahun 1972 Uganda dikuasai diktator pujaan Anda, Idi Amin. Saat itulah minoritas Khoja diusir dari Uganda. Meski minoritas orang Khoja menguasai banyak bidang kehidupan. Apalagi di Tanzania dan Madagascar.

Orang minoritas Khoja pun menyebar ke berbagai negara: Inggris, Kanada, Amerika. Ayah Mamdani terusir ke Afrika Selatan, lantas ke Amerika. Remaja Mamdani diajak serta ke Amerika.

Siapa sangka anak imigran Khoja yang terusir dari kediktatoran Uganda kini menjadi calon wali kota ''ibu kota dunia''.

Khoja adalah contoh minoritas yang sukses di mana-mana. Double minoritas. Bahkan triple. Hitung sendiri.(Dahlan Iskan)

Berita Terkait