Kesehatan

Bakteri Pemakan Daging Streptococcus Landa Jepang, Bagaimana dengan Indonesia?

fin.co.id - 22/06/2024, 08:19 WIB

Penampakan bakteri Streptococcus pyogenes atau streptococcus grup A. [CDC

fin.co.id- Jepang sedang dilanda wabah bakteri pemakan daging yang berasal dari grup A Streptococcus (GAS).

Tercatat, sepanjang tahun 2024 terjadi 977 kasus dengan angka kematian sebanyak 77 orang.

Diketahui, kematian yang disebabkan oleh Streptococcus Toxic Shock Syndrome (STSS) ini terjadi hanya dalam kurun waktu 48 jam.

Dokter ahli penyakit tropik dan infeksi Prof. Dr. dr. Erni Juwita Nelwan, PhD, Sp.PD-KPTI mengungkapkan bahwa sebenarnya bakteri Streptococcus ada di tenggorokan hampir setiap orang dewasa maupun anak-anak di seluruh dunia.

Baca Juga

Tak ayal, kuman ini sering menyebabkan radang tenggorokan dan infeksi kulit berupa kemerahan untuk penyakit yang ringan.

Namun, perjalanan penyakit atau spektrum penyakit karena kuman ini bisa tidak hanya itu bila menjadi semakin parah.

Kuman bisa beredar dalam darah (bakteremia) hingga menimbulkan sepsis.

Untuk gejala awal, penderita akan mengalami demam tinggi, disertai menggigil, nyeri otot, mual, serta muntah.

"Bila kuman menyebar ke dalam darah, menyebabkan sepsis dan STSS, serta kebusukan lapisan kulit atau fasciitis nekrotikans. Penyakit jantung rematik juga disebabkan kuman ini," ungkapnya.

Baca Juga

Di Indonesia sendiri, GAS masih belum ditemukan, tetapi strain lain dari Streptococcus, yakni grup B Streptococcus sempat ditemukan oleh peneliti.

"Tahun 2021, Peneliti BRIN Dodi Safari melaporkan adanya kolonisasi kuman grup B Streptococcus sebanyak 30% pada ibu hamil yang diteliti di Jakarta. Jadi belum ada data untuk GAS di Indonesia," ungkapnya.

Adapun pemeriksaan kultur dan resistensi antibiotika perlu dilakukan untuk mengetahui adanya infeksi kuman ini.

Seorang pasien yang dinyatakan terinfeksi kuman ini harus mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat agar tidak berujung pada kematian.

Terlebih, telah dilaporkan banyak kuman yang resisten terhadap antibiotika serta antibodi alamiah tidak bisa melawan infeksi bakteri Streptococcus.

"Bila terkena harus ditangani dengan cepat dan tepat. Libatkan dokter ahli penyakit tropik infeksi. Bila ditangani dengan tepat, bisa sembuh total," tandasnya. (Annisa/DSW)

Afdal Namakule
Penulis
-->