"Israel telah berkomitmen untuk tidak menyerang atau menangkap siapa pun di seluruh wilayah Gaza selama masa gencatan senjata", tambahnya.
Perjanjian tersebut adalah gencatan senjata pertama dalam perang sejak Oktober 2023 lalu. Di mana Israel telah hancurkan sebagian besar wilayah Gaza yang dikuasai Hamas.
Tercatat, warga di Gaza yang meninggal akibat serangan zionis berjumlah 13.300. Sementara sekitar dua pertiga dari 2,3 juta penduduknya kehilangan tempat tinggal, menurut pihak berwenang di Gaza.
BACA JUGA:
- Bantu Palestina, Houthi Yaman Bajak Kapal Kargo Milik Pengusaha Israel yang Melintas di Laut Merah
- Israel Serang Dua Sekolah Milik PBB untuk Pengungsi, 200 Warga Sipil Tewas
Israel Lanjut Perang Usai Gencatan Senjata

Benjamin Netanyahu --
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, pihaknya akan terus menyerang Jalur Gaza setelah gencatan berakhir
"Kita sedang berperang, dan perang akan terus berlanjut sampai semua tujuan kita tercapai," kata Netanyahu dalam pidato menjelang rapat kabinet untuk membahas usulan kesepakatan pembebasan sandera dan gencatan senjata empat hari dengan Hamas.
"Kita dihadapkan pada keputusan sulit namun merupakan keputusan yang tepat," kata Netanyahu mengenai kesepakatan tersebut.
Media Israel termasuk berita Channel 12 mengatakan pembebasan sandera pertama diperkirakan terjadi pada hari Kamis besok 22 November 2023.
Hamas hingga saat ini hanya membebaskan empat tawanan: warga AS Judith Raanan, 59, dan putrinya, Natalie Raanan, 17, pada 20 Oktober, dan wanita Israel Nurit Cooper, 79, dan Yocheved Lifshitz, 85, pada 23 Oktober. Tawanan dilepas dengan alasan kemanusiaan.
Sayap bersenjata kelompok militan Palestina Jihad Islam, yang berpartisipasi dalam serangan 7 Oktober dengan Hamas, mengatakan pada Selasa malam bahwa salah satu sandera Israel yang mereka sandera sejak serangan 7 Oktober terhadap Israel telah tewas.
“Kami sebelumnya menyatakan kesediaan kami untuk melepaskannya karena alasan kemanusiaan, namun musuh mengulur waktu dan hal ini menyebabkan kematiannya,” kata Brigade Al Quds di saluran Telegramnya.
Ketika perhatian terfokus pada kesepakatan pembebasan sandera, pertempuran di lapangan terus berkecamuk.