Komunikasi Rempang

fin.co.id - 23/09/2023, 06:03 WIB

Komunikasi Rempang

Ombudsman RI, mengaku menemukan potensi maladministrasi dalam upaya relokasi warga Pulau Rempang-ilustrasi-Berbagai sumber

Kini kondisi masyarakat di Rempang tenang.

Fokus Bahlil hanya soal penyediaan lokasi pabrik kaca dari Tiongkok. Luasnya 2.700 hektare. Tidak seberapa dibanding luas pulau Rempang yang 17.000 hektare.

Hanya saja memang ada kampung yang masuk lokasi 2.700 hektare itu. Yakni empat kampung: Tanjung Banun, Dapur 6, Sembulang, Pasir Panjang.

Bahlil merencanakan ''menggeser'' empat kampung itu. Ia tidak mau menggunakan istilah relokasi. Selama ini mereka kan menolak direlokasi. Siapa tahu tidak menolak kalau digeser.

Dari 17.000 hektare luas Pulau Rempang tidak semua bisa dihuni atau dialihkan untuk pabrik. Yang 10.000 hektare sendiri berstatus hutan. Tidak bisa diubah jadi komersial.

Setelah heboh di Rempang, komunikasi dilakukan. Kedatangan Bahlil tanpa melibatkan Pemerintah Provinsi Riau Kepulauan, Wali Kota Batam maupun pihak otorita.

Malam itu ia hanya ditemani staf ke Kampung Pantai Melayu. Bahlil langsung bertemu warga tanpa kehadiran pejabat daerah.

Titik temu memang belum didapat tapi komunikasi sudah mulai lancar. Persoalan pun menyempit dari 16 kampung ke hanya empat saja. Jumlah KK-nya pun sekitar 700 KK.

Dari kedatangan Bahlil itu setidaknya kini warga tahu bahwa lahan yang diperlukan inventor Tiongkok ''hanya'' 2.700 hektare. Bukan keseluruhan pulau Rempang.

Pemerintah Jokowi terkenal dengan kebijakan ''ganti untung'' untuk semua proyek jalan tol. Tidak pernah terjadi gejolak berat di pembebasan lahan untuk jalan tol. Juga di lahan untuk rel kereta cepat Jakarta-Bandung.

Rasanya Rempang pun akan mengikuti pola itu.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Edisi 22 September 2023: Siaga Silat

Er Gham

Ada banyak perguruan silat di Jawa Timur, namun yang menonjol konfliknya adalah dari 2 perguruan, yaitu perguruan setia hati dan pagar nusa. Persaingan sebenarnya biasa saja. Menganggap perguruannya lebih baik. Saat kecil, saya juga dulu begitu waktu menekuni suatu aliran bela diri. Kadang kita mencari kelemahan aliran bela diri lain dan menganggap aliran yang kita tekuni lebih baik. Saya coba cek google, konflik di Jawa Timur 'disemai' dengan: desain kaos yang kadang mengejek perguruan lain, logo di media sosial, dan dibangunnya banyak tugu di pinggir jalan. Banyak waktu luang di desa desa, membuat anak anak muda iseng untuk sekedar show of force. Awalnya mungkin sekedar iseng buat hiburan semata melepas kebosanan. Atau sekedar mencari perhatian. Namun makin lama, konflik semakin mengeras dan menular ke orang dewasanya. Di provinsi lain, sepertinya fanatisme melalui tugu, kaos, dan logo medsos cenderung tidak ada. Sepertinya sudah tepat pemprov Jawa Timur menihilkan tugu di pinggir jalan. Harusnya juga dengan dibaremgi larangan desain kaos yang provokatif mengejek perguruan lain.

Er Gham

Admin
Admin
Penulis

FIN Biro Karawang Bekasi