Sayangnya, lanjut Henri, Prabowo punya masa lalu yang buruk, termasuk pengalamannya memanfaatkan kelompok-kelompok politik yang gemar menggunakan politik identitas.
"Sampai-sampai Pilpres 2019 dan 2014 berdampak pembelahan politik yang sangat tajam hingga sekarang," katanya.
Henri melalnjutkan, sikap Prabowo yang memilih bergabung dengan pemerintahan Jokowi merupakan perkembangan poitik yang bagus yang dapat mencairkan pembelahan.
Sayangnya, kata dia. pembelahan tadi ada yang memanfaatkan, munculnya simbol baru pengganti Prabowo sebagai 'lawan' atau antitesis Jokowi, yaitu Anies Baswedan.
"Anies ambil peran dan posisi simbolik milik Prabowo sebelum jadi Menhan, yaitu sebagai 'rival' Jokowi. Walau dulunya pernah jadi menteri, jadi tim sukses Jokowi, lalu Gubernur, bisa berubah 180% menjadi simbol baru 'lawan' Jokowi," kata Henri Subiakto.
Menurut Henri, Anies mempunyai basis dukungan sebagiannya dari pendukung Prabowo Subianto yang merasa kecewa terhadap Prabowo Subianto.
Dengan begitu, Prabowo Subianto harus mempuyai strategi untuk mendapatkan dukungan kembali.
"Prabowo cukup sukses mendapat simpati dari sebagian pendukung Jokowi. Perubahan perilaku politik dan komunikasi politik Prabowo yang makin santun dan tidak menyerang Jokowi sebagian membuahkan hasil," kata Henri.
Dia mengatakan,Prabowo butuh dukungan yang lebih besar, tak hanya dari simpati pendukung Jokowi tapi juga berharap kembali dapat dukungan dari pemilihnya masa lalu.
Henri menilai, cara Prabowo untuk kembali menarik pendukung lawasnya, adalah dengan memunculkan Rocky Gerung dengan kritik-kritikan kerasnya terhadap Jokowi.
"Itulah tugas Rocky Gerung, untuk testing the water sekaligus kembali membangkitkan tuduhan-tuduhan buruk kepada Jokowi.
Harapannya, kata Henri, jika ada pertentangan dan kegaduhan di antar dua kubu, maka Prabowo tampil sebagai tokoh pemersatu.
"Tokoh yang ada dan bisa diterima di kedua kubu ialah Prabowo. Bukan Ganjar, bukan pula Anies. Jadi Rocky Gerung memainkan peran ini," katanya.
Lebih lanjut, prof Henri mengatakan, Jokowi akan bermain 'dua kaki' atau tidaknya itu tergantung dengan sikap PDI-Perjuangan.
"Kalau PDIP masih seperti karakternya sekarang, Ganjar bisa kalah. PDIP pun bisa tidak lagi jadi partai pemerintah," kata dia.