Akan tetapi dinamika internal koalisi yang kuat dan meragukan kompetensi AHY sebagai pendatang baru, yang membuat putra sulung Presiden SBY ini tidak kunjung diusung menjadi Cawapres.
Figur AHY dianggap lemah karena belum memiliki pengalaman dan keberhasilan dalam jabatan publik.
BACA JUGA:
- Pemerintah Dituduh Jegal Capres, Mahfud MD Gerah: Tolong Anies Dijaga agar Tetap Dapat Tiket Pilpres 2024
- Airlangga: Rakernas Golkar Mandatkan Capres-Cawapres Ditentukan Ketua Umum
Karena itu, meski AHY akan menjadi pilihan rasional dalam Koalisi Perubahan akan tetapi keterpilihan AHY sebagai Cawapres akan sangat bergantung kepada lobi dan transaksi politik yang terjadi di dalam koalisi tersebut.
Hingga saat ini, suka tidak suka, AHY masih menjadi pilihan utama Cawapres dalam Koalisi Perubahan. Sebaliknya, Sandiaga meski bukan Ketua Umum Partai, juga punya kans yang paling diunggulkan sebagai Cawapres.
Selain karena faktor sejarah Sandi pernah menjadi Cawapres, dirinya saat ini memiliki modal popularitas dan elektabilitas yang tinggi lantaran posisinya sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf).
Apalagi, baru dua hari belakangan, Sandi menjadi anggota Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang merupakan partai Islam bersejarah dan masih memiliki basis yang kuat di seluruh Indonesia.
BACA JUGA:
- PKB Ngebet Umumkan Cawapres Prabowo, Gerindra Bergeming, Tunggu Golkar Masuk?
- Masuk PPP, Peluang Sandiaga Jadi Cawapres Makin Besar
Pilihan ini tentu bukan tanpa alasan. Sandi memahami bahwa dirinya akan mampu mengambil keterwakilan PPP yang sudah bergabung dengan PDIP. Terlebih, ada informasi bahwa PDIP akan mengumumkan Cawapres Ganjar pada 24 Juni mendatang.
“Upaya Sandi untuk mendapatkan kesempatan menjadi keterwakilan PPP yang sudah bergabung dengan koalisinya PDIP. Kemudian mengingat bocoran dari PDIP yang akan mengumumkan calon wakilnya Ganjar pada tanggal 24 juni, maka gerakan cepat Sandi untuk menjadi PPP ini menjadi krusial,” ungkap Azhari.
Selain popularitas dan elektabilitas, Sandi juga memiliki modal kuat dalam pendanaan dan dukungan pemilih muda. Sandi dianggap sukses menularkan semangat kewirausahaan kepada banyak pemuda di seluruh negeri melalui saluran/channel sosial media.
Sementara itu, Erick Thohir juga sangat potensial menjadi Cawapres karena sudah diusung secara resmi oleh Partai Amanat Nasional (PAN). Meskipun PAN hanya memiliki 6,84 persen, tapi jumlah suara tersebut cukup kontributif untuk melimbungkan Koalisi Indonesia Bangkit (KIB) atau membuat koalisi politik baru.
BACA JUGA: