Otoritas penerbangan setempat menjelaskan, pesawat itu melakukan kontak dengan bandara Pokhara pukul 10.50 waktu setempat.
Sesaat kemudian, pesawat itu hilang kontak dan diketahui telah jatuh.
Masyarakat setempat yang memiliki nama Arun Tamu menjelaskan, setengah tubuh pesawat itu ada di lereng bukit, sebagian lagi masuk ngarai.
BACA JUGA:Daerah Ini Pilih Sistem Usia Tertua Berangkatkan Kuota Haji
Arun Tamu datang ke lokasi beberapa saat setelah kecelakaan.
Kecelakaan itu ialah yang paling mematikan di Nepal semenjak Maret 2018.
Waktu itu, pesawat turboprop milik US-Bangla Dash 8 dengan jalur Dhaka-Kathmandu jatuh, menewaskan 51 dari 71 orang.
Semenjak tahun 2000, sekurang-kurangnya 309 orang meninggal dalam kecelakaan pesawat atau helikopter di Nepal.
Nepal sebagai rumah bagi delapan dari 14 gunung paling tinggi di dunia, terhitung Everest.
Hal tersebut membuat cuaca bisa berganti mendadak dan mengundang keadaan berbahaya.
Uni Eropa sudah larang maskapal penerbangan Nepal dari daerah udaranya semenjak 2013, dengan argumen permasalahan keamanan.
Menurut situs penelusuran penerbangan FlightRadar24, pesawat yang jatuh Minggu, 14 Januari itu , sudah berumur 14 tahun.
BACA JUGA:Perancang Busana Ramah Lingkungan Jadi Jawara Miss Universe 2023
ATR72 ialah pesawat turboprop dengan mesin ganda yang sering dipakai dan dibuat perusahaan patungan Airbus dan Leonardo Italia.