Insiden Kanjuruhan, Komnas HAM: Penyebab Utamanya Gas Air Mata

fin.co.id - 21/10/2022, 19:18 WIB

Insiden Kanjuruhan, Komnas HAM: Penyebab Utamanya Gas Air Mata

Anggota Komnas Ham, Choirul Anam memberikan keterangan di kantor arema fc

BACA JUGA:Puan Maharani Sebut Kasus Gagal Ginjal Akut Pada Anak Mengkhawatirkan: Ini Kejadian Luar Biasa

"Jadi sementara ini tentang penghapusan itu menuru keterangan sementara dan penyidik dan tim labfor bahwa itu karena internet, gangguan internet seperti itu, ujar Wijaya pada Kamis, 20 Oktober 2022.

Lanjutnya, TGIPF pun akan minta Polri berikan jawaban tertulis mengenai penyebab terhapusnya rekaman CCTV itu.

"Kami akan minta jawaban tertulis oleh pihak kepolisian, Kalu betul dari internet (gangguan) harus dijawab secara tertulis dan ini tindak lanjutinya dari TGIPF seperti apa? ya nanti harus secara resmi," tegasnya.

Arman meneruskan, jika TGIPF memiliki rekaman CCTV Stadion Kanjuruhan yang sama di pegang polisi.

BACA JUGA:Budaya Pencak Silat Mulai Pudar pada Generasi Muda, 1.811 Jawara Bakal Bertarung di GOR Jakarta Utara

Mahfud MD Soroti Gas Air Mata di tragedi Kanjuruhan

Penyebab tewasnya 132 orang dalam Tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang karena gas air mata.

Penegasan tersebut disampaikan langsung Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD. 

Dikatakannya, penembakan gas air mata telah membuat penonton panik dan lari berdesakan sehingga ratusan meninggal dunia.

"Saya nggak peduli sekarang seberapa besar kandungan kimia yang mematikan (dalam gas air mata), itu tidak penting. Karena bukan kimianya yang menyebabkan, tetapi penembakannya yang menyebabkan orang panik kemudian berdesak-desakan dan mati," kata tegasnya, mengomentari hasil survei LSI secara daring, Kamis, 20 Oktober 2022.

Admin
Admin
Penulis

Penulis di FIN.CO.ID sejak Maret 2022 yang fokus mengeksplorasi dunia Teknologi, Sepak Bola, dan Anime. Memiliki ketertarikan kuat pada isu-isu viral, ia berkomitmen menghadirkan konten yang segar, informatif, dan relevan dengan tren masa kini.