Internasional

Lapid 'Naik Pitam' soal Australia Tidak Mengakui Yerussalem sebagai Ibukota Israel

fin.co.id - 19/10/2022, 23:57 WIB

Tentara Israel serang warga Palestina di Masjid Al Aqsa

AUSTRALIA, FIN.CO.ID - Keputusan Pemerintah Australia yang tidak mengakui Kota Yerussalem sebagai Ibukota Israel membuat Perdana Menteri (PM) Israel Yair Lapid geram.

Pasalnya, keputusan Pemerintah Australia itu mengubah keputusan pemerintahan sebelumnya.

Dilansir kantor berita AFP melalui rm.id, Lapid yang langsung naik pitam, mengkritik Australia. 

BACA JUGA: PPP Kejar Target Pemenuhan Kuota 30 Persen Keterwakilan Wanita di Parlemen

Dia menggambarkan langkah itu sebagai tanggapan tergesa-gesa.

“Kami hanya bisa berharap Pemerintah Australia mengelola hal-hal lain dengan lebih serius dan profesional. Yerusalem adalah Ibu Kota Israel yang abadi, bersatu dan tidak ada yang akan mengubah itu,” tegas Lapid dalam sebuah pernyataan yang dirilis kantornya.

Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan, telah memanggil Duta Besar Australia untuk mengajukan protes resmi atas keputusan tersebut.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong mengumumkan perubahan kebijakan pemerintahan terdahulu, dengan membatalkan pengakuan Australia atas Yerusalem Barat sebagai ibukota Israel.

BACA JUGA: Tim Gegana Banten Evakuasi Bom Mortir di Rumah Orang Tua Renta Sebatang Kara

Kepemimpinan PM Anthony Albanese, katanya, akan terus mendorong solusi dua negara, antara Israel dan Palestina dalam menciptakan perdamaian di wilayah itu. 

Menurut Penny Wong, status kota itu harus diputuskan melalui pembicaraan damai antara Israel dan Palestina, dan bukan melalui keputusan sepihak.

“Kami tidak akan mendukung pendekatan yang merusak solusi dua negara. Kedubes Australia selalu, dan tetap di Tel Aviv,” tandas dia.

Kendati demikian, Wong menekankan, Australia akan selalu menjadi teman setia Israel. 

BACA JUGA: Kata JPU: AKP Irfan Widyanto Ganti DVR CCTV Duren Tiga Tanpa Seizin Ketua RT Drs. Seno Soekarto

Kebijakan Australia terkait Israel yang dibuat PM Australia terdahulu, Scott Morrison, kata Wong, sangat politis, yakni untuk memenangkan suara dalam pemilu.

Admin
Penulis
-->