"Tim juga menghubungi korban, melihat korban, bahkan sempat menyaksikan perubahan fenomena trauma lukanya dari menghitam, kemudian memerah dan menurut dokter itu recovery-nya paling cepat adalah satu bulan," kata anggota TGIPF Tragedi Kanjuruhan, Nugroho Setiawan.
TGIPF merasa penggunaan gas air mata diharapkan bisa dipertimbangkan lagi karena memiliki dampak cukup panjang.
Sehingga ketika terjadi kasus tertentu yang memerlukan penanganan khusus, gas air mata diharapkan tak lagi dipakai.
"Jadi efek dari zat yang terkandung di gas air mata itu sangat luar biasa. Ini juga patut dipertimbangkan untuk crowd control di masa depan," jelas Nugroho dikutip dari akun YouTube Kemenko Polhukam.
BACA JUGA:Sepekan Tragedi Kanjuruhan, Old Star Persita Tangerang Gelar Doa Bersama
TGIPF sendiri telah berbicara dengan tim steward dan Komando Distrik Militer (Kodim) TNI di Malang.
Melalui pertemuan itu dan juga rekaman CCTV, TGIPF Tragedi Kanjuruhan mendapatkan informasi mengenai aksi penyelamatan terhadap korban di Stadion Kanjuruhan saat itu.
"Kemudian juga tadi bicara dengan beberapa pihak termasuk tim steward yang sudah bertugas kemarin dan juga melakukan penyelamatan pada akhirnya, termasuk unsur TNI dalam hal ini Kodim," beber Nugroho.
"Tadi juga diterima Kasdim dan beliau menjelaskan beserta pasukan yang di-BKO-kan saat itu, apa yang mereka lakukan, termasuk yang kami dapati di CCTV maupun fakta-fakta bahwa evakuasi korban itu dilakukan oleh tim steward dan TNI dalam hal ini sampai dengan pukul 03.00 pagi," tambahnya.
BACA JUGA:Airlangga Bareng Dewa-19 Galang Donasi Korban Kanjuruhan dan MTsN 19 Pondok Labu
Terkait penumpukan di Pintu 13 saat tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 131 orang terjadi, yang menurut Nugroho itu terbuka, tapi sangat kecil. Ketika itu, penonton laga Arema FC vs Persebaya berebut keluar dari pintu tersebut.
Dalam situasi itu, kata Nugroho sebagian penonton yang mencoba keluar ada yang sudah jatuh pingsan. Akibatnya, mereka terinjak-injak hingga meregang nyawa.
"Situasinya adalah orang itu berebut keluar, sementara sebagian sudah jatuh pingsan, terhimpit, terinjak karena efek dari gas air mata. Jadi ya miris sekali," imbuh Nugroho.
"Saya melihat detik-detik beberapa penonton yang tertumpuk dan meregang nyawa terekam sekali di CCTV," lanjutnya.
I mean, come on. Isn't it too obvious? You can always blame those misbehaving supporters for misbehaving, but you can never hide the fact that the effin' tear gas caused the tragedy.https://t.co/22Cj83rct8
— Dedek Prayudi - Uki || (ig: @uki_dedek) (@Uki23) October 9, 2022