"Mungkin dari sekian ribu bahkan kalau Gontor sekian juta. Inilah mungkin peristiwa yang tidak diinginkan," kata dia.
“Bukan hanya mewarnai Indonesia. Pejabat, wamenlu, menteri agama dan beberapa sektor banyak yang alumni Gontor,” ungkapnya.
Kiai Cholil mengatakan, kalau pun terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan di pondok pesantren, hal itu sangat kecil kemungkinan yang di luar batas penjagaan manusia.
(BACA JUGA:Puan Maharani Soroti Santri Tewas di Ponpes Gontor: Bentuk Kekerasan di Dunia Pendidikan Tidak Dapat Tolerir)
“Silahkan bapak ibu, untuk memasukkan (anak) pada pondok pesantren, percayalah pesantren memegang amanah,” ujarnya.
Sementara itu, Polri terus bersikeras membongkar misteri kematian santri gontor.
Diduga santri berinisila AM (17) ini menjadi korban kekerasan.
Anggot Polri dari Polres Ponorogo, Polda Jawa Timur akan bongkar misteri kematiannya dengan memeriksa 18 saksi termasuk dua terduga pelaku.
(BACA JUGA:Kasus Penganiayaan di Ponpes Gontor, Muhammadiyah: Jangan Nila Setitik Rusak Sebelanga)
Kasat Reskrim Polres Ponorogo AKP Nikolas Bagas Yudhi Kurnia mengungkapkan jika saksi juga berasal dari staf pengasuhan pesantren, dokter, dan beberapa staf IGD rumah sakit pesantren.
"Update ada 18 orang saksi yang diperiksa sampai hari ini. Untuk beberapa saksi lain akan kami update lagi," terang Nikolas, Kamis 7 September 2022.
Berdasarkan keterangan yang diperoleh, terduga pelaku berjumlah dua orang berstatus senior korban.
Sedangkan, dua korban lain sudah sehat dan kembali beraktivitas.
(BACA JUGA:MUI Dukung Ponpes Gontor Pecat Oknum Santri Pelaku Penganiayaan)
"Terduga pelaku saat ini masih proses pemeriksaan. Sudah ada dua orang. Santri semua, senior korban," tandasnya.