Catatan Dahlan Iskan . 02/02/2022, 09:05 WIB

Gus Margiono

Penulis : Admin
Editor : Admin

pakai pesawat. Kami mencarter Boeing 747 cargo. Yang moncongnya bisa dibuka–barang dikeluarkan dari moncong itu.

Dalam 24 jam mesin tiba di Cengkareng. Utang saya ke Margiono lunas.

Pak Diah pun meninggal dunia. Terjadilah apa yang tidak saya bayangkan: saham

pak Diah jatuh ke ahli waris. Dengan ahli waris itu kami bertikai soal saham karyawan.

Kami tidak mau bertengkar.

Saya pun minta pendapat Margiono. "Kita mengalah saja. Harian Merdeka yang sudah sangat maju ini kita serahkan sepenuhnya kembali ke mereka. Termasuk deposito," ujar Margiono.

"Lalu?"

“Kami semua akan berhenti dari Merdeka. Bos bikinkan kami koran baru lagi, yang

milik kita sepenuhnya," ujarnya.

"Apakah semua karyawan ikut Anda ke koran baru?" tanya saya.

"Paling, yang karyawan lama yang tidak ikut," jawabnya.

"Nama koran baru nanti apa?" tanya saya.

"Harus ada kata ''merdeka'' nya," jawabnya.

"Tidak dikira ndompleng ketenaran Merdeka?" tanya saya.

"Kan ada juga koran lain yang pakai nama merdeka," jawabnya. Saya pun tahu yang

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id