Catatan Dahlan Iskan . 02/02/2022, 09:05 WIB
''Angkatan 45''.
Beberapa perusahaan baru saya dirikan: agar angkatan 45 itu menyebar. Mereka bisa memimpin perusahaan-perusahaan baru itu.
"Saya mau tetap saja di redaksi. Saya tidak punya kemampuan lain selain menulis," ujar salah satu generasi itu. Ia menangis. Tidak mau meninggalkan redaksi.
Dua tahun kemudian saya rapat dengannya di perusahaan baru. Saya tanya ia:
"Masih mau kembali ke redaksi?" tanya saya.
"Tidak, tidak, tidak. Tidak mau," jawabnya. "Ternyata saya bisa," tambahnya.
Begitu juga angkatan 45 lainnya.
Di tangan Margiono, Jawa Pos terus maju. Tapi banyak generasi unggul di angkatannya. Yang juga layak menjadi pemimpin redaksi.
"Saya mau kalau ditugaskan memimpin koran baru di mana saja," katanya. "Biar regenerasi di Jawa Pos terus bergilir," tambahnya.
Saya tahu alasan tersembunyinya: agar tidak terus di bawah bayang-bayang saya.
Mungkin juga karena ia mendengar bahwa saya baru saja dipanggil BM Diah, mantan menteri penerangan yang juga pemilik Harian Merdeka.
Pak Diah minta agar saya mengelola Merdeka yang lagi sangat sulit. "Saya percaya dengan manajemen arek Suroboyo iki," kata Pak Diah mencoba mencampurkan
Bahasa Jawa.
Waktu itu saya memang minta agar Pak Diah tampil di depan seluruh karyawan dan
wartawan Merdeka. Agar beliau sendiri yang menjelaskan mengapa menunjuk saya–dan bukan ke anaknya sendiri.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id