News . 24/09/2021, 10:39 WIB

Dominasi Kartel di Komoditi Pertanian, Menjadi Game Politik

Penulis : Admin
Editor : Admin

JAKARTA - Indonesia memiliki kekayaan wilayah pertanian yang luar biasa. Sayangnya, cita-cita bangsa untuk menjadi lumbung pangan dunia masih jauh panggang dari api. 

Buktinya, para petani banyak yang hidup miskin. Selain itu, komoditas pangan kita masih banyak yang bergantung pada impor.

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengatakan, kebijakan pertanian di Indonesia sebenarnya sudah cukup ideal. Pertanyaannya kenapa pertanian kita dan Indonesia belum bisa menjadi negara agraris yang maju pertaniannya.

Menurutnya bukan soal kebijakannya saja. Tetapi implementasi dari kebijakan yang ada. Masalahnya tidak semata-mata dari undang-undang, tentang kebijakan. 

"Sampai hari ini petani kita atau Indonesia belum bisa disebut sebagai negara lumbung pangan dunia, padahal pangan itu sangat penting. Hari ini kedaulatan pangan petani kita belum menjadi kekuatan, belum mampu menciptakan swasembada,” ujar Gus Jazil (sapaan akrabnya), Kamis (23/9).

Wakil Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengatakan, dulu era Orde Baru Indonesia pernah swasembada pangan. Hal ini menjadi pertanyaan ketika sekarang justru tidak bisa. 

Menurutnya, hal ini menjadi persoalan besar. Ketika Indonesia sebagai negara agraris namun tidak mampu mengejar cita-cita untuk swasembada di sektor pangan. Dan tidak mampu menaikkan indeks kesejahteraan petani. 

”Jangan berkata anggaran kita tidak cukup, tapi apakah benar semua program dan kebijakan yang sudah diputuskan itu mampu diimplementasiklan. Saya kok melihat ada banyak masalah. Lahan bermasalah, Distribusi pupuk itu bermasalah, penyediaan bibit itu juga bermasalah. Bahkan petaninya pun bermasalah akhirnya karena indeks petani juga belum terlalu baik,” urainya.

Hal lain yang menjadi soal, kata Gus Jazil, apakah masyarakat kita dan anak-anak muda bangga menjadi petani. Sebab, saat ini anak-anak muda justru meninggalkan sektor-sektor pertanian dan tidak bangga lagi untuk menjadi petani. 

”Kalau begitu berarti ancaman kedepan kita bisa kekuaran pangan. Dan kalau kita kekurangan pangan atau ketanahan pangan kita rapuh maka negeri kita juga akan rapuh,” tuturnya.

Disisi lain, Gus Jazil juga mengkritisi banyaknya permainan kartel di berbagai komoditi pertanian yang menyebabkan petani kita tidak berdaya. ”Banyak produk pertanian yang itu menjadi game politik dalam konteks tata niaganya. Kartel ada di gula, kartel ada di kedelai, di bawang putih, kartel juga ada di daging. Ini semua masalah sehingga petani kita kemudian tidak mampu untuk bisa berdaya,” tuturnya.

Menurutnya, kebijakan tata niaga pertanian ini sangat penting untuk menjadi perhatian pemerintah. Sebab, sering kali ketika petani panen, kemudian harganya jatuh. (khf/fin)

           

Network;
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNPos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com

           

Network:
FinNews.id   |  Radarpena.co.id   |  IKNPos.id