News . 22/09/2021, 23:05 WIB
JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyampaikan, gas bumi akan memegang peran penting hingga tahun 2050, di mana gas bumi akan berperan penting dalam proses transisi menuju energi baru terbarukan (EBT).
Indonesia sendiri disebut memiliki cadangan gas bumi yang cukup besar, meski belum bisa dioptimalkan di pasar domestik.
Hal itu disampaikan oleh Sekretaris SKK Migas, Taslim Z. Yunus, dalam Webinar bertajuk "Arah Baru Industri Migas: Ketahanan Energi dengan Memaksimalkan Pemanfaatan Natural Gas dan LNG", yang diselenggarakan pada Rabu (22/9/2021).
Menurut Taslim, hingga tahun 2050 mendatang akan terjadi kenaikan pemanfaatan minyak bumi sebesar 139 persen dan gas sebanyak 298 persen dibandingkan saat ini.
"Pada tahun 2050 kenaikan konsumsi minyak menjadi 3,97 juta bopd (barel per hari) dan gasnya menjadi lebih dua kali lipat yaitu 26 BSCFD (miliar standar kaki kubik gas per hari). Ini artinya kita akan mengalami kenaikan permintaan dari minyak dan gas, walaupun dari persentasenya, porsi minyak terutama, adalah lebih kecil," ungkap Taslim.
Sementara pada sisi hilir, pertumbuhan pemanfaatan gas bumi di Indonesia dari tahun 2012 hingga sekarang disebut masih sangat rendah, hanya sekitar 1 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi di Indonesia mencapai 4 persen-5 persen.
BACA JUGA: Mulai September 2021, Kemensos Stop BST Rp300 Ribu
"Kalau dari demand-nya sangat kecil yaitu 1 persen. Oleh sebab itu kami tidak henti-hentinya bekerjasama dengan para buyer bagaimana cadangan-cadangan (gas bumi) yang sudah di-POD-kan bisa diambil sesuai dengan kontrak yang ditetapkan bersama," ungkapnya.
Pihak SKK Migas mengharapkan ada terobosan-terobosan baru agar penyerapan gas bumi di dalam negeri bisa optimal. Seperti perubahan perencanaan pemanfaatan gas oleh PLN untuk keperluan pembangkit listriknya. Lalu, pengembangan pabrik petrokimia baru serta proyek RDMP petrokimia juga akan menjadi faktor pendorong peningkatan pemanfaatan gas bumi kedepannya.
Pihak PLN sendiri membeberkan bahwa sejak tahun 2010 hingga tahun 2020, pemanfaatan gas bumi untuk pembangkit PLN cenderung meningkat seiring tersedianya infrastruktur gas.
Demikian pula porsi serapan untuk LNG juga meningkat seiring berkurangnya kemampuan pasok gas pipa.
Namun, belum kompetitifnya harga gas dibandingkan harga batu bara menyebabkan fuel mix gas semakin gas semakin rendah beberapa tahun terakhir. Hal ini diperparah dengan kondisi pandemi Covid-19.
Sementara itu, VP Pengendalian Kontrak Gas PLN Edwin Bangun mengatakan, hingga tahun 2030, akan ada dua skenario yang disampaikan PLN dalam draft RUPTL yaitu skenario optimal dan skenario low carbon.
"Low carbon ini akan menambah pasokan gas lagi dan akan menekan daripada PLTU," tegas Edwin.
Kebutuhan gas PLN sendiri antara tahun 2020 sampai 2030 berkisar antara 1.100 bbtud sampai 1.350 bbtud.
"Ini adalah demand gas yang didesain dalam draft RUPTL yang sebentar lagi rencananya akan ditandatangani," ucap Edwin.
Network;
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id
PT.Portal Indonesia Media
Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210
Telephone: 021-2212-6982
E-Mail: fajarindonesianetwork@gmail.com
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNPos.id