Tanam Tembakau di Sela Bawang Putih

TEMANGGUNG – Sebagian petani tembakau di Desa Liyangan Kecamatan Ngadirejo, terpaksa menanam tembakau di sela tanaman bawang putih. Sebab sampai saat ini belum semua bawang putih dipanen di awal bulan Mei ini.

Sudari petani tembakau desa setempat menuturkan, musim tanam tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, bagi petani yang menanam bawang putih. Penanaman tembakau tahun ini terpaksa dilakukan di tengah-tengah tanaman bawang putih. Alasannya karena tanaman bawang putih baru berumur sekitar 80 hari, sehingga masih belum bisa dipanen.

“Kalau tahun kemarin saya tidak tanam bawan putih jadi, tanam tembakaunya lebih awal. Paling-paling 30 hari lagi tanaman bawang putih baru bisa dipanen,” katanya, kemarin.

Namun demikian lanjutnya, menanam tembakau di tengah-tengah tanaman bawang putih tidak akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman tembakau. Sebab asupan makanan untuk tanaman tembakau berbeda dengan bawang putih.

“Tidak akan terganggu, apalagi saat ini tanam bawang putihnya dengan menggunakan plastik. Jadi makanannya sudah terbagi-bagi sesuai porsinya,” terangnya.

Terkait dengan varietas atau jenis tembakau yang ditanam Sudari menuturkan, sebagian besar petani masih mempertahankan varietas kemloko. Dengan menanam varietas ini diharapkan kualitas tembakau yang dihasilkan bisa lebih baik.

“Setiap tahun kami pasti tanam kemloko, soalnya dengan jenis lainnya memang sangat berbeda. Aromanya harum, tembakaunya juga lebih bagus,” ujarnya.

Ia berharap dengan menanam tembakau jenis ini, harga tembakau saat panen raya tahun ini bisa lebih baik dari tahun kemarin.

Harapan yang sama juga disampaikan oleh Rohimah petani lainnya, di awal panen raya tahun kemarin harga tembakau cukup bagus. Namun seiring berjalannya waktu harga tembakau kemudian menurun hingga tutup panen raya.

“Awal sampai pertengahan panen harganya cukup bagus, rata-rata tembakau petani dibeli dengan harga antara Rp65 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram,” ceritanya.

Memang katanya, harga itu sudah cukup tinggi, hanya saja jika dibandingkan dengan ongkos untuk melakukan tanam tembakau hingga panen raya, masih belum menguntungkan bagi petani.

“Memang harganya sudah baik, tapi kami masih belum untung. Sebab saat ini harga pupuk kandang sudah mahal, apalagi pupuk yang khusus tembakau harganya juga sangat mahal,” katanya.

Oleh karena itu petani berharap, panen raya tahun ini harga tembakau lebih baik, setidaknya lebih dari Rp100 ribu per kilogram. Soalnya untuk menutup sewa tanah dan tenaga pekerja saja sudah sangat mahal.

“Kalau harga di atas Rp100 ribu, petani sudah tidak tombok lagi. Sudah untung dan bisa persiapan untuk tanam tahun berikutnya,” ucapnya. (set)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here