Harga Kebutuhan Pokok Diprediksi Tinggi hingga Akhir Tahun

Harga Kebutuhan Pokok Diprediksi Tinggi hingga Akhir Tahun

JAKARTA -┬áNatal dan tahun baru menjadi alasan tingginya harga beberapa komoditas pangan hingga akhir 2021. Sebab, dalam moment tersebut terjadi peningkatan permintaan lebih tinggi dari biasanya. Belum lagi, perubahan cuaca juga berdampak pada musim tanam, petani beberapa komoditas mempercepat musim tanamnya dan hal ini berdampak pada terbatasnya hasil panen. "Semua keterbatasan ini menyebabkan harga naik karena tidak sesuai dengan banyaknya permintaan," kata Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Indra Setiawan, dalam keterangannya, Senin (20/12/2021). Dalam catatannya, pada November, komoditas yang menjadi pemicu utama inflasi adalah kenaikan harga telur dan cabai merah yang masing-masing berkontribusi sebesar 0,06 persen. Data Indeks Bulanan Rumah Tangga (Indeks Bu RT) CIPS mencatat kenaikan harga telur cukup signifikan, yaitu sebesar 19 persen dari Rp23.544 per kg menjadi Rp28.086 per kg pada November 2021. "Harga telur yang mulai naik, mengalami rebound atau kembali normal dari sebelumnya yang sempat anjlok akibat melimpahnya stok di pasar," ujarnya. Selain itu, kata Indra, kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang membatasi kegiatan operasional restoran, hotel dan pusat perbelanjaan menyikapi kenaikan jumlah kasus covid-19 di Juli lalu juga memengaruhi daya beli masyarakat. "Terutama yang mata pencahariannya terdampak pandemi," imbuhnya. Adapun Indeks Bu RT juga mencatat, kenaikan harga ayam dari Rp36.125 per kg menjadi Rp37.308 per kg. Harganya naik Rp1.183 sejak Oktober 2021. "Pemerintah perlu memastikan ketersediaan pakan ternak supaya harga ayam petelur tetap bisa stabil," jelasnya Sementara itu, harga cabai merah naik dari Rp56.143 per kg pada Oktober 2021 menjadi Rp58.182 per kg pada November 2021. Salah satu penyebabnya karena stok yang menurun karena petani saat ini masih musim tanam. "Para pedagang memprediksi kenaikan harga cabai merah masih akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan. Berbeda dengan harga ayam, harga bawang merah justru mengalami penurunan," terangnya. Pada November, harga bawang merah turun dari Rp78.222 per kg menjadi Rp74.006 per kg. Penurunan harga tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Yang pertama adalah cuaca ekstrem menyebabkan kualitas bawang merah menurun. Kedua, musim panen di beberapa daerah di Indonesia mengakibatkan stok bawang merah melimpah. "Meski harga turun, bawang merah Indonesia tetap paling mahal dibandingkan Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina. Harga bawang putih naik tipis dari Rp36.718 per kg menjadi Rp37.209 per kg," pungkasnya. (der/fin)  

Sumber: