Bakar 1.500 T

Bakar 1.500 T

Gautam Adani--

Oleh: Dahlan Iskan

SEHARI sebelum menghadiri peringatan Satu Abad NU hari ini, Presiden Jokowi bikin penasaran publik: jangan sampai apa yang terjadi di India terjadi di sini.

Ibu kota India memang lagi dilanda demo. Juga di Gujarat. Berhari-hari. Kian rusuh. Sidang parlemen pun sampai ditunda. Bukan soal politik. Bukan pula kenaikan harga kebutuhan hidup. 

Demo itu, aneh, soal dugaan praktik kecurangan di sebuah perusahaan. Yakni di Adani Group, sebuah konglomerat dari Ahmadabad, Gujarat.

Nama bos Adani Group, Anda sudah tahu: Gautam Adani, 60 tahun. Gautam satu daerah dengan orang kuat India saat ini: Narendra Modi. Yakni Perdana Menteri India yang terpilih untuk periode kedua.

Sebelum jadi perdana menteri pun Modi sudah orang kuat. Di Gujarat. Ia terpilih sebagai gubernur Gujarat: juga dua periode. Populer sekali. Pertumbuhan ekonomi Gujarat saat itu hampir selalu 9 persen/tahun. Modi sudah menjelaskan bahwa Gautam tidak mendapat keistimewaan dari pemerintah. 

Ahmadabad juga daerah kelahiran Mahatma Gandhi yang Anda agungkan itu. Saya pernah ke rumah aslinya di sana. 

Grup Adani memang lagi kelimpungan saat ini. Harga sahamnya runtuh. Grup perusahaan ini tiba-tiba saja kehilangan kekayaan lebih Rp 1.500 triliun.

Penyebabnya: ''pembunuh saham'' dari Amerika Serikat beraksi. Sang pembunuh adalah sebuah perusahaan riset pasar modal: Hindenburg Research (HR). Bisnis perusahaan itu memang melakukan penelitian terhadap perusahaan publik di pasar modal. Terutama perusahaan yang dicurigai melakukan praktik curang di bursa saham. 

Perusahaan riset ini juga punya usaha lain: melakukan short selling. 

Mimpi buruk Gautam itu terjadi tanggal 24 Januari lalu. Hindenburg hari itu mengeluarkan hasil risetnya: Adani Group telah melakukan manipulasi saham, laporan keuangan, dan diragukan bisa membayar kembali utang-utangnya.

Adani Group pun sibuk membantah hasil riset itu. Tapi publik lebih percaya pada Hindenburg. Harga saham 11 perusahaan Grup Adani yang go public terus menurun. Sampai Senin kemarin harga saham itu masih terus turun. Market cap Adani turun sampai USD 110 miliar.

Yang membuat rakyat demo adalah: perusahaan itu punya utang ke bank milik negara dan asuransi. Nilai utangnya sampai sekitar Rp 400 triliun. Rakyat minta semua itu diusut. Lalu, minta diselidiki pula apakah ada hubungannya dengan kekuasaan Modi.

Hindenburg sendiri awalnya juga curiga: bagaimana grup usaha ini bisa melejit begitu meroketnya. Tahun 2021 kekayaannya USD 100 miliar. Tahun 2022 menjadi USD 200 miliar. Berarti langsung menjadi konglomerat nomor 3 di India. Di bawah grup Mukesh Ambani dan Tata. 

DAPATKAN UPDATE BERITA FIN LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Sumber:


Berita Terkait

Riyadh Muda

1 minggu

Cinta Cilaka

1 minggu

Sandal Tua

1 minggu

Henry 0086

1 minggu