Survei Indopolling, PDI Perjuangan Masih Kuasai DKI Jakarta, Disusul PKS dan Gerindra

Survei Indopolling, PDI Perjuangan Masih Kuasai DKI Jakarta, Disusul PKS dan Gerindra

Miniatur Monas dibuat dengan limbah kertas yang menjadi simbol DKI Jakarta.-dok.fin-dok.fin

JAKARTA, FIN.CO.ID - PDI Perjuangan masih berada di atas dan menguasai dukungan pemilih di DKI Jakarta.

Hal tersebut berdasarkan hasil survei Indopolling Network yang menunjukkan elektabilitas PDI Perjuangan menguasai dukungan pemilih di DKI Jakarta, sebagaimana hasil Pemilu 2019.

 BACA JUGA:Prabowo Ogah Nonton Piala Dunia 2022 karena Indonesia Tidak Bermain

"Dari simulasi pertanyaan tertutup pilihan partai, elektabilitas PDIP saat ini masih unggul di DKI Jakarta dengan elektabilitas sebesar 22,8 persen," kata Direktur Riset Indopolling Network Dewi Arum Nawangwungu, Minggu 27 November 2022.

Kemudian, disusul oleh PKS (18,1 persen), Gerindra (11,2 persen), NasDem (8,8 persen), Demokrat (6,4 persen); Golkar (4,8 persen), PPP (4 persen) dan PKB (3,7 persen). Sementara, elektabilitas partai lainnya masih di bawah 3 persen.

"Jika dibandingkan dengan hasil Pemilu 2019, adanya pergeseran posisi dukungan, di mana PKS berada di posisi kedua menggeser partai Gerindra," kata Arum.

Arum menjelaskan, dilihat dari sebaran dukungan wilayah, PDIP terlihat menguasai dukungan dari wilayah Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Jakarta Pusat.

 BACA JUGA:Bertemu Gibran di Solo, PDIP Sebut Politik Anies untuk Memecah Belah PDI Perjuangan

"Sementara PKS terlihat unggul di wilayah Jakarta Selatan," ujarnya.

Selain elektabilitas partai, survei itu juga memotret respons publik Jakarta terkait sikap mereka terhadap potensi penggunaan sarana tempat ibadah sebagai lokasi kampanye, maupun penggunaan isu SARA dalam proses kampanye pada ajang Pilpres 2024 yang akan datang.

"Mayoritas publik DKI Jakarta (65,5 persen) menyatakan penolakannya terhadap penggunaan tempat ibadah tertentu sebagai ajang sosialisasi/kampanye capres-cawapres," ujarnya.

Mayoritas publik (71,8 persen) juga menyatakan menolak penggunaan isu SARA dalam meyakinkan dukungan kepada pemilih.

 BACA JUGA:Cerita Hasto: Merapatnya 6 Jenderal Purnawirawan ke PDI Perjuangan

"Penarikan sampel kami lakukan dengan metode Multistage Random Sampling selama periode 8-13 November 2022 dari populasi warga DKI Jakarta yang telah memiliki hak pilih," kata dosen Ilmu politik FISIP Universitas Brawijaya itu.

Sumber: