Deteksi Dini Penting untuk Cegah Kanker Serviks, karena Tidak Menunjukan Gejala kecuali Sudah Stadium Lanjut

Deteksi Dini Penting untuk Cegah Kanker Serviks, karena Tidak Menunjukan Gejala kecuali Sudah Stadium Lanjut

Deteksi dini kanker rahim, Ilustrasi oleh Saranya7 dari Pixabay--

JAKARTA, FIN.CO.ID - Deteksi dini penting untuk cegah kanker serviks, karena kanker serviks tidak menunjukan gejala.

Anjuran pentingnya deteksi dini untuk cegah kanker serviks ini disampaikan spesialis kandungan dan ginekologi dr. Cindy Rani Wirasti, Sp.O.G.

Dokter anggota dari Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia itu menjelaskan mengapa kanker serviks ini tidak menunjukan gejala.

BACA JUGA:Pemerintah Gratiskan Vaksin Kanker Serviks, Wanita yang Pernah Berhubungan Badan Wajib Penuhi 2 Syarat Ini

"Serviks (leher rahim) tidak punya saraf, kalau terinfeksi tidak sakit dan tidak bergejala," kata dokter Cindy.

Karena berada di dalam tubuh, makanya sulit untuk mengetahui gejala kanker serviks secara kasat mata. Baru pada stadium lanjut, gejala ini bisa akan terlihat.

Ciri dari gejala kanker serviks stadium lanjut kata dokter Cindy, adalah seperti keluar darah saat intim, dan keputihan yang bercampur dengan darah.

Jadi jika hanya keputihan, maka itu bukanlah gejala dari kanker serviks, namun beda ceritanya jika ada darah.

"Keputihan saja bukan gejala kanker serviks, tapi kalau keputihan bercampur darah hati-hati," kata dia.

Bagi perempuan yang belum aktif secara seksual, virus penyebab kanker serviks yang disebut human papillomavirus (HPV) tidak bisa masuk ke leher rahim karena terhalang oleh selaput dara.

Namun, ia mengatakan bahwa human papillomavirus (HPV) adalah virus yang ada di mana-mana dan bisa menyebabkan berbagai penyakit, bukan cuma kanker serviks, tetapi juga kutil kelamin, kanker anal, kanker vagina, kanker orofaring, kanker penis dan kanker vulva.

Ada beberapa tipe HPV, pada tipe yang berisiko tinggi seperti tipe 16 dan 18, HPV bisa menyebabkan kanker leher rahim.

Virus ini dapat menular melalui HPV dapat ditularkan jika terjadi kontak kulit-ke-kulit di area genital, baik itu rute seksual maupun non seksual yang ditularkan ibu kepada anak.

Ketika ada infeksi virus, kanker tidak terjadi secara serta merta. Cindy mencontohkan, bila seorang remaja yang aktif melakukan hubungan seksual kemudian terpapar HPV, kanker serviks dapat muncul ketika usianya sudah dewasa.

Ia mengajak masyarakat untuk mencegah infeksi HPV dengan vaksinasi HPV yang bisa melindungi seseorang dari HPV tipe 16 dan 18, sebagian besar penyebab kanker serviks, dan tipe 6 dan 11 yang jadi penyebab kutil kelamin.

"Vaksin membuat tubuh membentuk antibodi terhadap virus sehingga tidak sampai menimbulkan kanker serviks dan kutil kelamin," ujar dia.

Pemerintah menargetkan anak perempuan usia kelas 5 SD dan 6 SD sebagai penerima vaksinasi HPV yang masuk ke dalam program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (SD).

Vaksinasi HPV diberikan pertama kali untuk anak usia kelas 5 SD dan dosis kedua diberikan setahun kemudian.


Sumber: