Pandemi Mengubah Kebiasaan Tidur Orang di Seluruh Dunia, Ini Efeknya ke Masyarakat Indonesia

Pandemi Mengubah Kebiasaan Tidur Orang di Seluruh Dunia, Ini Efeknya ke Masyarakat Indonesia

Pandemi Mengubah Kebiasaan Tidur, Image oleh PublicDomainPictures dari Pixabay--

JAKARTA, FIN.CO.ID - Pandemi mengubah kebiasaan tidur orang di seluruh dunia, demikian seperti diungkap yang dilakukan Samsung.

Hal ini ditemukan Samsung lewat studi yang melibatkan penggunaan data Samsung Health miliknya.

Perubahan kebiasaan tidur orang yang dimaksud di sini adalah seperti pola, durasi, dan efisiensi tidur orang sejak pandemi dimulai.

BACA JUGA:3 Manfaat Tidur di Lantai, Gak Melulu Soal Sakit Paru-paru Basah

Dari situ diketahui bahwa meskipun orang-orang menikmati waktu tidur rata-rata yang lebih lama, jika dibandingkan sebelum pandemi, namun mereka justru mengalami penurunan efisiensi tidur secara keseluruhan.

Dan ketika bicara siapa yang paling terganggu kebiasaan tidurnya, data Samsung menunjukan bahwa kaum pria adalah yang paling merugi.

Dari situ diketahui bahwa tidak hanya lebih banyak tidur dibanding data sebelum pandemi, kaum pria juga mengalami penurunan efisiensi tidur lebih besar dari kaum wanita.

Sementara itu, usia menjadi faktor menarik. Saat semua kelompok umur tidur lebih lama, efisiensi tidur akan semakin menurun seiring bertambahnya usia.

Namun, ada pengecualian untuk orang-orang di usia 20–39 tahun, di mana mereka mengalami peningkatan efisiensi tidur.

"Selain itu, mereka juga menjadi satu-satunya kelompok usia yang menunjukkan peningkatan yang signifikan pada durasi dan efisiensi tidur sekaligus," bunyi isi studi tersebut.

Untuk menyimpulkan studi ini, Samsung menganalisis data 16 negara, yang tercatat paling banyak menggunakan Samsung Health dalam kesehariannya.

Menariknya lagi, dari situ diketahui bahwa masyarakat Indonesia mengalami peningkatan efisiensi tidur, dari pra ke pasca pandemi.

Sebelumnya, Indonesia adalah negera dengan efisiensii tidur terendah, sebagaimana data Samsung Health Mencatat. Namun kini predikat itu pindah ke Vietnam.

Gangguan Telat Tidur-Telat Bangun

Anda punya kebiasaan telat tidur dan telat bangun? Jika iya, maka Anda mungkin mengalami masalah tidur yang namanya delayed sleep-wake phase disorder.

Menurut ahli, via Alodokter, gangguan telat tidur-telat bangun ini, sering kali ditemukan pada kaum remaja, meski bisa berlangsung hingga usia dewasa.

Mereka yang masuk dalam ketegori penderita gangguan telat tidur-telat bangun adalah mereka yang tertunda tidurnya selama 2 jam atau lebih.

Akibatnya mereka penderita gangguan telat tidur-telat bangun, akhirnya kesulitan untuk bangun tepat pada waktunya.

Aktifitas seperti bersekolah atau bekerja pun pada akhirnya ternggung oleh kebiasaan ini.

Jadi jika pada umumnya jam tidur rata-rata orang Indonesia adalah pukul 10 malam, maka mereka yang mengalami gangguan telat tidur-telat bangun umumnya baru akan mulai tidur pada pukul 12 atau lebih.

Meski begitu, orang yang menderita gangguan telat tidur-telat bangun bisa saja mendapatkan tidur yang berkualitas, jika masalah tidur mereka tidak dibarengi dengan gangguan tidur lain seperti apnea tidur, menyebabkan orang sering bangun atau bangun lebih cepat dari yang seharusnya.

Gangguan telat tidur-telat bangun ini dianggap bermasalah, apabila aktifitas penderitanya terganggu akibat kantuk di siang hari.

Mereka yang mengeluhkan kelelahan, sulit konsentrasi atau mengingat informasi baru, mood yang buruk, hingga mengalami penurunan performa, perlu mencari pertolongan dokter untuk solusinya.

Adapun penyebab orang sampai bisa mengalami gangguan telat tidur-telat bangun, adalah akibat faktor keturunan, pubertas, punya penyakit mental, menderita penyakit sistem saraf seperti pikun dan parkinson, insomnia kronis dan lainnya.


Sumber: